SENI DAN DUNIA MANUSIA

Bambang Sugiharto
unpublished
Persepsi atas 'Seni' • Umumnya "seni" dipahami sebagai perkara keindahan, hiasan, kesenangan, atau hiburan. Pada tingkat lebih serius, seni dilihat sebagai produk mengagumkan hasil kecerdasan kreatif dan keahlian para genius, yang menuntut perenungan mendalam. • Persepsi di atas kini tidak lagi memadai, meski tidak salah juga. Seni telah mengalami perkembangan yang sedemikian kompleks dan paradoksal secara eksternal maupun internal. Perkembangan eksternal: seni kini telah menjadi bahan utama
more » ... jadi bahan utama industri gaya hidup dan paradigma pokok untuk memahami segala fenomena dalam dunia khas manusia (dari sains, budaya, hingga agama). Perkembangan internal: bersama modernitas, seni sempat menjadi wilayah eksklusif yang otonom, dan hakekatnya lantas direnungkan ulang terus menerus sehingga bentuk ungkapan materialnya justru semakin menghilang, mengalami proses "dematerialisasi", sementara batas wilayah eksklusifnya pun akhirnya menjadi relatif, bahkan memudar dan kini menyatu kembali dengan kehidupan sehari-hari. Itu sebabnya bentuk-bentuk karya seni mutakhir bisa aneh-aneh dan membuat orang bingung. Mengkaji ulang fenomena 'seni' • Sebagai "fenomena", seni sudah selalu ada dalam setiap kebudayaan, namun fungsi dan hakekatnya bisa berbeda-beda. Apa yang dikategorikan sebagai karya "seni" dan "bukan seni" di berbagai budaya pun tidak selalu sama. Di dunia Barat misalnya, kaligrafi tidak dianggap seni tinggi, padahal di China atau Arab itu seni tinggi. Di jawa, batik bisa dianggap seni tinggi, tapi di dunia Barat juga tidak. • Dalam dunia modern umumnya seni dibagi dua: "fine arts" dan "applied art" , atau "seni murni" dan "seni terapan". Yang pertama adalah seni yang ditujukan untuk perenungan, yang kedua untuk keperluan lain seperti iklan, komunikasi, ilustrasi film, dsb. Memang kini dalam evolusinya kedua kategori itu pun bisa tumpang tindih, akan tetapi dua jenis seni itu dari sisi tujuannya tetaplah berbeda dan karenanya menuntut apresiasi yang berbeda pula. • Dalam kerangka konseptual modern seni telah dipahami melalui berbagai konsep kunci seperti : ars (keterampilan), tékhnê (keahlian), atau kalon (keindahan). Yang sering terabaikan adalah konsep poein atau poiésis (membuat/menciptakan) dan aisthenasthai (persepsi/ kesadaran akan sesuatu, akar kata "estetika"). Bila dikaitkan pada akar konseptual poiésis dan aisthenastai, maka seni lebih tepat dipahami sebagai "sesuatu yang menciptakan persepsi baru". Dan ini dibahas dengan bagus oleh filsuf Heidegger. "The essence of art....is the setting-itself-into-work of truth", katanya. Dalam kerangka berpikir Heidegger, seni memang lebih soal tampilnya persepsi baru atas "kebenaran", daripada perkara "keindahan". Seni adalah soal tampilnya the truth of being, kebenaran realitas kehidupan. Di sini "kebenaran" itu bukan kebenaran normatif moral, bukan kebenaran religius, bukan pula kebenaran ilmiah, melainkan "kebenaran eksistensial" dalam arti "hidup ini nyatanya memang dialami sebagai
fatcat:4xnwaupcdzdn5eqw7szduujw7y