Peran Ultrasonografi dalam Evaluasi Pasca Operasi

Andi Friadi
2020 Andalas obstetrics and gynecology journal  
Abstrak Peran ultrasonografi (USG) pasca operasi ginekologi antara untuk menilai dan mengevaluasi komplikasi yang terjadi pasca operasi. Ultrasonografi merupakan suatu metode yang non invasif sehingga meminimalisir risiko tindakan dan ketidaknyamanan pasien. Dalam tinjauan pustaka ini akan dibahas tiga topik utama yang berkaitan peran USG pada kondisi pasca operasi, yaitu hematoma, cedera organ saluran kemih dan massa residif khususnya untuk kasus ginekologi onkologi. Hematoma dibagi dua yaitu
more » ... a dibagi dua yaitu hematoma pada tunggul (vault hematoma) dan hematoma subfascial. Penggunaan ultrasonografi juga untuk mengevaluasi cedera organ saluran kemih, terutama ginjal dan ureter. Terdapat dua teknik untuk mengidentifikasinya yaitu teknik transabdominal dan teknik transvaginal untuk mengevaluasi semburan urin yang menandakan tidak terdapat obstruksi pada ureter. Selain itu USG dapat digunakan untuk menilai hidronefrosis. Pada kasus kanker, ultrasonografi dapat berperan dalam mengevaluasi tindakan dan follow up apabila ada kekambuhan/ massa residif, misalnya pada abdomen atas yaitu peritoneum (peritoneal carcinomatosis) atau metastasis liver. Abstract The role of ultrasonography (USG) in postoperative gynecology is to assess and evaluate postoperative complications. Ultrasonography are the methods which is noninvasive hence minimize the risk during examination and decrease discomfort the patients. In this literature review, we will explain three main topic role of ultrasound to evaluate postoperative condition such as hematoma, injuries due to the urinary tract and residive mass especially for gynecology oncology cases. Hematoma divided into hematoma on the stump of ( the vault is hematoma ) and subfascial hematoma. The use of ultrasonography also to evaluate injuries at organ of the urinary tract, especially kidney and ureters. There are two methods which are transabdominally and transvaginally to evaluate the ejection of urine that can confirm that there are no obstruction in the ureter. In addition there is a ultrasound can be used to assess hydronefrosis. In cases of cancer, ultrasound can be used to evaluate residive mass in upper abdomen such as peritoneum (peritoneal carcinomatosis) and liver metastases. Wiener dkk melaporkan bahwa beberapa hal yang terkait dengan subfascial hematoma adalah retraksi abdomen yang kasar (vigorous retraction) dan hemostasis yang tidak adekuat. Berikut adalah identifikasi hematoma subfascial yang dilakukan oleh Wiener dkk (Gambar 2). 2 Gambar 3. Penampang sagital dan transversal teknik transvaginal memperlihatkan large hypoechogenic fluid collection di tunggul vagina. 10 Gambar 4. Penampang longitudinal dan transversal USG memperlihatkan massa kompleks (M) dan kandung kemih (BL). Gambar yang ditunjukkan oleh anak panah memperlihatkan hematoma subfacial yang meluas ke bagian anterior melewati otot rectus abdominis. Hematoma Hematoma yang sering dilaporkan adalah vault hematoma dan subfacial hematoma sebagai salah satu komplikasi pasca operasi. Kuhn dkk melaporkan kejadian vault hematoma banyak terjadi pada tindakan histerektomi vagina. Pada 50 pasien yang dilakukan operasi histerektomi vagina, didapatkan 49 (98%) pasien terjadi vault hematoma dan 35 (70%) Volume 4, Nomor diantaranya mengalami demam pasca operasi. 1 Wiener dkk melaporkan 12 pasien operasi dengan subfascial hematoma, 11 pasien mengalami demam pasca operasi. 2 Rosen dkk melaporkan bahwa dari 30 pasien yang dilakukan laparoskopi histerektomi, vault hematoma rata-rata 16,3 ml, dan hanya 5 pasien yang mengalami demam. 3
doi:10.25077/aoj.3.3.1-8.2019 fatcat:voetwcllyrbh7barqukbd34i7u