PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DALAM PERSPEKTIF PURNA TENAGA KERJA INDONESIA (Studi Fenomenologi Di Pagelaran Malang)

Rina Puruhita, Dani Pertiwi, Pendidikan Sekolah, Rina Puruhita, Dani Pertiwi, Hardika Jurusan, Pls Fip, Jl Semarang, Malang
unpublished
Nonformal education which was built outside the formal school. The ignorance of the public school education will result in society just fixated on formal education, because in fact the only formal education which is still recognized by most of the industry in recruiting workers. Live the life as a labor of Indonesia at the instigation of critical economics is the main reason for most of Indonesia's labor. This study aims to describe the significance of education for its full-time workforce of
more » ... time workforce of Indonesia for herself and their children, and how their efforts in preventing that their children not be labor of Indonesia. The focus of this research is described in depth education in perspective of the full-time labor of Indonesia. Abstrak: Pendidikan non formal yang dibangun di luar sekolah formal. Pendidikan luar sekolah atau biasa disebut pendidikan nonformal pada akhirnya menjadi fenomena asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, mereka tidak mengetahui bahwa terdapat sebuah sistem pendidikan di luar pendidikan sekolah yang mampu memberikan keterampilan bagi seseorang. Ketidaktahuan masyarakat akan pendidikan luar sekolah mengakibatkan masyarakat hanya terpaku pada pendidikan formal saja, karena pada kenyataannya hanya pendidikan formal yang masih diakui oleh sebagian besar kalangan industri dalam merekrut pekerja. Kata kunci: pendidikan luar sekolah, tenaga kerja Indonesia. Mayoritas penduduk Desa Pagelaran memiliki mata pencaharian sebagai petani, buruh tani, buruh bangunan, pegawai negeri, pegawai swasta dan sebagian lagi merantau keluar kota, luar pulau bahkan ke luar negeri bekerja sebagai TKI. Bekerja sebagai TKI merupakan pilihan tersulit dan merupakan pilihan terakhir karena sulitnya mencari pekerjaan yang dapat mendatangkan gaji besar dengan pendidikan rendah yang dimiliki. Purna TKI rela bekerja sebagai TKI guna memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhan akan pendidikan keluarga. Warga Desa Pagelaran yang bekerja sebagai TKI hanya mampu bersekolah sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) saja, seperti yang dialami oleh pasangan suami istri purna TKI SA yang pernah bekerja di Arab Saudi dan SN pernah bekerja di Hongkong yang sama-sama hanya bersekolah sampai SMP saja. Purna TKI tidak hanya berpangku tangan sepulang bekerja sebagai TKI, tetapi bekerja sebagai peternak sapi perah. Purna TKI
fatcat:ojqp4x564bg53cyerwlxt66gge