ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DALAM MATEMATIKA MENGACU PADA WATSON-GLASER CRITICAL THINKING APPRAISAL PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI DI BANJARMASIN TENGAH TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Agni Danaryanti, Adelina Lestari, Pendidikan Matematika, Fkip Universitas, Lambung Mangkurat, Jl Brigjen, H Hasan Basry, Kayutangi Banjarmasin
2017 EDU-MAT Jurnal Pendidikan Matematika   unpublished
Abstrak: Salah satu kemampuan penting untuk dimiliki oleh seorang siswa adalah kemampuan berpikir kritis. Di level SMP, anak mulai mampu menangkap secara lebih jelas maksud dari suatu permasalahan, mempertimbangkan, mengajukan du-gaan, dan menganalisis dengan sederhana keterkaitan antar subjek permasalahan. Bagi anak usia SMP, di sinilah peran berpikir kritis telah dapat diterapkan bahkan ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa kelas
more » ... tis siswa kelas VIII SMP Negeri di Banjarmasin Tengah tahun pelajaran 2016/2017. Metode deskriptif adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini. Populasi penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri kecamatan Banjarmasin Tengah. Sampel dalam penelitian ini diambil secara acak. Teknik pengumpulan data menggunakan tes yang berisi soal kemampuan berpikir kritis mengacu pada Watson-Glaser Critical Thinking Appraisal. Teknik analisis data menggunakan inter-pretasi nilai akhir, persentase, dan rata-rata. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa termasuk dalam kategori sedang. Pada indikator penarikan kesimpulan (inference), kemampuan berpikir kritis siswa berada pada kategori sedang. Pada indikator indikator asumsi (recognition of assumptions), ber-ada pada kategori sangat tinggi. Pada indikator deduksi (deduction), berada pada kategori tinggi. Pada indikator menafsirkan informasi (interpretation), berada pada kategori sedang. Pada indikator menganalisis argumen (evaluation argument), ber-ada pada kategori rendah. Kata kunci: kemampuan, berpikir kritis, Watson-Glaser Critical Thinking Appraisal Berpikir kritis yaitu potensi yang bisa diukur, dilatih, dikembangkan, dan dimiliki oleh se-tiap orang (Lambertus, 2009). Permendiknas Indonesia Nomor 23 tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, menye-butkan bahwa matematika perlu diberikan kepada semua siswa di setiap jenjang pen-didikan termasuk SMP untuk membekali sis-wa dengan kemampuan berpikir logis, ana-litis, sistematis, kritis, kreatif, serta mempu-nyai kemampuan bekerja sama. Materi dalam matematika dimenger-ti dengan cara berpikir kritis, dan salah satu cara melatih berpikir kritis adalah melalui belajar matematika, sehingga materi dalam matematika dan keterampilan berpikir kritis menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan (Lambertus, 2009). Namun kebiasaan ber-pikir kritis ini belum dijadikan tradisi di bebe-rapa sekolah. Seperti yang dikatakan kritikus Jacqueline dan Brooks dalam Syahbana (2012), sekolah yang mengajarkan siswanya berpikir kritis hanya sedikit. Sekolah jarang
fatcat:q2wmclk57zdetecgqyalxwm2u4