AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI FRAKSI ETIL ASETAT BUAH ASAM KANDIS (Garcinia dioica Blume) TERENKAPSULASI PATI-Carboxymethylcellulose (CMC)

Jurnal Kimia, Khatulistiwa
2018 unpublished
ABSTRAK Buah asam kandis (Garcinia dioica Blume) merupakan sumber antioksidan dan antibakteri, namun pemanfaatannya dalam wujud ekstrak memiliki waktu penyimpanan yang relatif pendek dan rentan mengalami kerusakan akibat pengaruh lingkungan. Enkapsulasi merupakan salah satu solusi untuk melindungi dan mengontrol pelepasan bahan aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan antibakteri buah asam kandis sebelum dan sesudah proses enkapsulasi dengan bahan penyalut
more » ... bahan penyalut pati-CMC (Carboxymethylcellulose). Adapun prosedur enkapsulasi dilakukan pada 20% (b/b) fraksi etil asetat dan pati-CMC dengan perbandingan 1:3 menggunakan metode freeze drying. Uji aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picryl hydrazil), sedangkan uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumur. Hasilnya diperoleh aktivitas antioksidan dengan nilai IC 50 fraksi dan enkapsulat masing-masing adalah 37,883 dan 359,225 ppm. Berdasarkan uji aktivitas antibakteri diperoleh hasil bahwa fraksi aktif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococus aureus dan Pseudomonas aeruginosa pada rentang konsentrasi 1-6 mg/sumur, sendangkan enkapsulat hanya aktif menghambat bakteri P.aeruginosa pada rentang konsentrasi 0,3-1,0 mg/sumur. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penggunaan pati-CMC dengan perbandingan 1:3 belum optimal melindungi bahan aktif saat diaplikasikan sebagai sumber antioksidan, namun optimal dalam meningkatkan sifat antibakteri fraksi etil asetat buah asam kandis. Kata Kunci: G. dioica Blume, antioksidan, antibakteri, enkapsulasi, freeze drying PENDAHULUAN Genus Garcinia merupakan kelompok tumbuhan yang kaya akan senyawa metabolit sekunder, seperti flavonoid, santon, benzofenon dan antrakuinon (Ritthiwigrom et al., 2013). Kelompok senyawa tersebut sangat berperan aktif sebagai senyawa antioksidan, sitotoksik dan antibakteri (Wahyuni et al., 2015). Salah satu tumbuhan tropis Indonesia yang termasuk dalam kelompok genus Garcinia adalah asam kandis (G. dioica Blume). Fraksi etil asetat buah asam kandis berdasarkan uji fitokimia mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, fenolik dan saponin (Ardiningsih et al., 2012), sehingga buah asam kandis berpotensi sebagai sumber antioksidan dan antibakteri. Kelebihan dalam wujud ekstrak tersebut juga memiliki kekurangan yaitu waktu penyimpanan yang relatif pendek dan rentan terhadap kerusakan akibat pengaruh lingkungan (Tursiman et al., 2012 dan Ardiningsih et al., 2012). Sehingga diperlukan metode yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya adalah metode enkapsulasi. Menurut Tensiska et al., (2012) metode enkapsulasi merupakan metode yang dapat melindungi bahan inti yang mengandung senyawa aktif dan dapat mengontrol pelepasan bahan aktif tersebut saat akan digunakan. Penelitian sebelumnya mengenai enkapsulasi ekstrak buah asam kandis sudah pernah dilakukan, dimana ekstrak etanol buah asam kandis dienkapsulasi menggunakan maltodektrin dan diperoleh hasil bahwa enkapsulat memiliki aktivitas antimikroba dengan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 1,5 mg/sumur (Fitriana et al., 2014). Berdasarkan penelitian tersebut, maka pada penelitian ini dilakukan penelitian serupa dengan melakukan proses
fatcat:2qwc2ivkg5aclmroyhcraswhde