Peningkatan Hasil Belajar Pembagian Pecahan Biasa dengan Pendekatan Konstruktivisme di Kelas V SD Negeri 03 Silaut Kabupaten Pesisir Selatan

Sulistya Sulistya
2018 JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)  
The research is based on the low learning result of Fractional Sharing Division, because in learning the students do not have the opportunity to communicate their initial knowledge and build their own understanding. To overcome this, researchers through this research apply the approach of Constructivism to improve learning outcomes. The purpose of the study describes the planning, implementation, and improvement of learning outcomes of regular fractional divisions in class V with a
more » ... with a constructivism approach. The research type is Classroom Action Research using the qualitative and quantitative approach. Subjects of teachers and 21 students of class V. Techniques of data collection using observation, tests, documentation. Data analysis using qualitative data analysis is data reduction, data presentation, a conclusion. Quantitative data analysis is a descriptive analysis. Research carried out II cycle. Each cycle consists of planning, execution, observation, reflection. The results showed that from cycle, I to cycle II, it can be concluded that constructivism approach can improve learning result of fractional division in class V SDN 03 Kecamatan Silaut. PENDAHULUAN Bahwa materi pembagian pecahan biasa membutuhkan pemahaman. Siswa harus mampu memahami dan menguasai konsep materi pembagian pecahan biasa dengan cara meningkatkan mutu dan kemampuan anak dalam membangun pengetahuannya mengenai pembagian pecahan biasa. Karena jika siswa gagal dalam memahami konsep pembagian pecahan ini, maka siswa tersebut juga akan gagal dalam pembelajaran konsepkonsep lain baik pada mata pelajaran matematika maupun mata pelajaran lain yang berhubungan dengan pembagian pecahan biasa. Berdasarkan hasil observasi ,ternyata ada beberapa permasalahan pada pembelajaran Pembagian Pecahan Biasa, yaitu 1) guru masih banyak menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran, 2) siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengemukakan pengetahuannya karena dalam pembelajaran siswa langsung menerima konsep dari guru, 3) siswa tidak memiliki kesempatan untuk berpikir secara maksimal untuk membangun pemahaman tentang konsep baru, dan 4) dalam mengaplikasikan pemahamannya mengenai konsep baru siswa hanya meniru contoh yang dipaparkan guru di papan tulis sehingga pemahaman siswa hanya bersifat tekstual. Bahwa dari 23 siswa yang tuntas mencapai KKM hanya 10 siswa dengan persentase 43,48 %. Sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 13 siswa dengan persentase 56,52 %. Dengan demikian dapat peneliti kemukakan bahwa hasil belajar siswa rendah dan tujuan pembelajaran belum tercapai.
doi:10.29210/02018185 fatcat:bytqv55ukbayli5bjriw3cvdii