PERANCANGAN TEMPAT BELAJAR DI TANJUNG DUREN DENGAN PENDEKATAN OPEN ARCHITECTURE SEBAGAI RUANG KETIGA

Harisno Coandy Wibowo, Doddy Yuono
2020 Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)  
Jakarta's monotonous life between home/ first place and workplace/ second place needs a place for us to get out of this routine. Therefore the third place comes as an alternative to eliminate the boredom caused by Jakarta. A good third place is a third place that can have a positive impact on users. The need for limited learning tools in schools results in students feeling bored and looking for other places to learn. Therefore the project taken is a social forum in the form of a place of
more » ... f a place of learning for students an the community. This place of learning will certainly be a place for students to learn and space for the community to relax or conduct dialogues until training. The approach of this project is sharing where people from various groups can share knowledge, so that people gain knowledge not by reading, but by dialogue. In designing this project the designer re-examines what is meant by "learning". This project brings all kinds of learning methods that we know into a single unit. Learning does not have to be by reading book, learning can be done by dialogue while eating relaxed. Learning does not have to sit in front of a desk, learning can be done by walking. Learning does not have to be "safe", learning can be done by giving a sense of danger. The presence of this building is expected to improve the quality of life of the community, especially in terms of education in the Tanjung Duren and surrounding areas. Thus creating a better state life than before. AbstrakKehidupan Jakarta yang monoton antara rumah/ tempat pertama dan tempat kerja/ tempat kedua membutuhkan wadah untuk kita keluar dari rutinitas tersebut. Maka dari itu tempat ketiga (third place) hadir menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan kejenuhan yang ditimbulkan Jakarta. Third place yang baik adalah third place yang dapat memberikan dampak positif bagi penggunanya. Kebutuhan akan sarana belajar yang terbatas pada sekolah-sekolah mengakibatkan siswa merasa jenuh dan mencari tempat belajar lain. Oleh karena itu proyek yang diambil adalah sebuah wadah sosial berupa tempat belajar bagi siswa dan masyarakat. Tempat belajar ini tentunya akan menjadi wadah bagi siswa untuk belajar dan ruang bagi masyarakat untuk bersantai ataupun melakukan dialog sampai pelatihan. Pendekatan proyek ini ialah sharing dimana masyarakat dari berbagai kalangan dapat saling berbagi pengetahuan, sehingga masyarakat memperoleh ilmu bukan dengan cara membaca, tetapi dengan cara berdialog. Dalam perancangannya proyek ini perancang menelisik kembali apa yang dimaksudkan dengan "belajar". Proyek ini membawa segala macam metode belajar yang kita kenal menjadi satu kesatuan. Belajar tidak harus dengan membaca buku, belajar dapat dilakukan dengan berdialog sambil makan santai. Belajar tidak harus duduk di depan meja, belajar dapat dilakukan dengan berjalan. Belajar tidak harus dengan "aman", belajar dapat dilakukan dengan memberikan rasa bahaya. Dengan hadirnya bangunan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat terutama dalam hal pendidikan di wilayah Tanjung Duren dan sekitarnya. Sehingga menciptakan kehidupan bernegara yang lebih baik dari sebelumnya.
doi:10.24912/stupa.v2i1.6769 fatcat:qlege6sdrncwxa7ubflxwehipq