BEREBUT "BERKAH" SENDANG SELIRANG DALAM PERSPEKTIF BEBERAPA KOMUNITAS MASYARAKAT MUSLIM KOTA GEDE, YOGYAKARTA: Sebuah Upaya Mempromosikan Dialog Agama dan Budaya

Waryono Waryono
2018 Jurnal Masyarakat dan Budaya  
Abstrak Artikel ini membahas tentang fenomena budaya lokal Sendang Selirang. Sendang Selirang merupakan tradisi membersihkan kolam yang berada di bekas lingkungan Kerajaan Mataram Awal di Kota Gede. Tradisi tersebut dimaknai secara berbeda oleh tiga kelompok di Kota Gede, yaitu kelompokAbangan, Santri, dan Intelektual. Permasalahannya, mengapa dan apa latarbelakang perbedaannya? Meskipun berbeda, mengapa warga Kota Gede tetap harmonis? Penelitian etnografi dengan wawancara mendalam dan
more » ... ndalam dan observasi ini telah menemukan bahwa bagi masyarakat Abangan, Sendang Selirang merupakan ritus dan upacara yang dilaksanakan dengan emosi keagamaan dan mempunyai sifat keramat. Pemaknaan ini berbeda dengan kelompok santri yang direpresentasikan oleh Muhammadiyah. Oleh beberapa aktivis Muhammadiyah, ritual ini dianggap sebagai bagian dari takhayul, bid'ah, dan kurafat, sehingga harus dihindari. Sementara itu, bagi kelompok intelektual, peristiwa nawu sendang tidak cukup dipandang dari sisi agama, melainkan juga perlu dilihat dari sisi budaya. Hal itumerupakan"jalan tengah" untuk menengahi dua kelompok sebelumnya dan menghindari terjadinya potensi konflik. Kata kunci: Sendang Selirang, abangan, santri, cendekiawan, harmoni. Abstract This article discusses the cultural phenomenon calledSendang Selirang. Sendang Selirangis the name of one of the local culture typical in Kota Gede Yogyakarta, which are still preserved. Sendang Selirang is a tradition of cleaning the pool in the former kingdom of Mataram environment in Kota Gede. The tradition interpreted differently by the three groups in Kota Gede; Abangan, muslim students, and intellectual. The problem is the background why there are differences and what are the differences? Although different, why citizens of Kota Gede remain in harmony? The results from this ethnographic research with in-depth interview and observation method shows that for Abanganpeople, Sendang Selirang are rites and ceremonies performed with religious emotion and have sacred properties. It turned out to be different meanings for groups of students who are represented by Muhammadiyah. For some Muhammadiyahactivists, the tradition ofnawu Sendang (Sendang Selirang) is part of superstition, heresy, and kurafat, so it should be avoided. As for the intellectuals, the event cannot beseen only from religious side, but also should beseen from cultural point of view. This is "the middle way" to mediate the two previous groups and prevent potential conflict.
doi:10.14203/jmb.v19i3.485 fatcat:uwp5xv47qnd3vplqqy6roc6xly