ANALISIS KEBERLANJUTAN USAHATANI HORTIKULTURA SAYURAN PADA LAHAN BERLERENG DI HULU DAS JENEBERANG, SULAWESI SELATAN Saida Mahasiswa S3 Program Studi PSL-Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor 16680

S Sabiham, Widiatmaka Departemen, Ilmu Tanah, Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, S Sutjahjo, Departemen Agronomi, Dan Hortikultura, Fakultas Pertanian
unpublished
This study aimed to analyse the sustainability of vegetables horticultural farming on sloping land in the upstream Jeneberang watershed based on the index evaluation and the status of sustainability by Rap-farm method using Multidimensional Scaling (MDS). Results of ordination technique analysis Rap-farm method of MDS showed that index of vegetables horticultural farming sustainability ranged from 32.19-62.53. Dimension of ecological, economical, institutional, and technological included into
more » ... cal included into sustainable enough category, while social dimension, included into less sustainable category in vegetables horticultural farming systems. Results of leverage Rap-farm analysis showed that from 43 attributes that were analyzed, there were 23 sensitive attributes that affected into the sustainability of vegetables horticultural farming systems in the upstream of Jeneberang watershed. Key words: index and status of sustainability, sensitive attribute, vegetables horticulture farming Budidaya tanaman hortikultura di lahan berlereng dihadapkan kepada faktor pembatas biofisik seperti lereng yang relatif curam, kepekaan tanah terhadap longsor dan erosi, curah hujan yang relatif tinggi, dan lain-lain. Kesalahan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya lahan di daerah ini dapat menimbulkan kerusakan atau cekaman biofisik berupa degradasi kesuburan tanah dan ketersediaan air yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di lahan dataran tinggi, tetapi juga di dataran rendah di bawahnya. Empat hal yang mencerminkan penurunan kualitas pertanian lahan kering dataran tinggi yaitu (1) usaha tani yang semakin tidak menguntungkan bagi petani sehingga tidak dapat mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya, (2) menurunnya daya dukung lingkungan yang ditunjukkan oleh meningkatnya kerusakan lingkungan dan rendahnya produktivitas lahan, (3) meningkatnya volume hujan akibat anomali iklim yang memicu terjadinya ledakan serangan hama dan penyakit tanaman sehingga mengakibatkan gagal panen dan kerugian materi yang tidak sedikit, dan (4) hilangnya kemampuan masyarakat untuk membangun modal sosial (social capital) sehingga mereka tidak mampu mengendalikan terjadinya kerusakan lingkungan dan
fatcat:r2jjtcacpbgyfnmoypojznfami