PEMBUATAN MEDIA BELAJAR KREATIF BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI BAGI MGMP BAHASA INGGRIS SMP DI TULUNGAGUNG SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MINAT BELAJAR ANAK PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS

Yepi Sedya Purwananti, Bayu Meghantarai, Daniswari Anteng, Ciptaningtyas, Stkip Pgri, Tulungagung, Stkip Pgri, Tulungagung, Stkip, Pgri Tulungagung
2015 Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat   unpublished
ABSTRAK Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemampuan guru SMP di Tulungagung dalam membuat media belajar yang kreatif. Materi pelatihan ini meliputi workshop dan praktik dalam membuat media belajar yang kreatif Bahasa Inggris. Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 20 September 2014. Pelatihan dilaksanakan dengan metode ceramah, pemberian tugas dan bimbingan. Kemudian para peserta dituntut untuk bisa membuat media belajar yang kreatif pada akhir pelatihan, selanjutnya dikoreksi dan
more » ... a dikoreksi dan diberi skor serta mendapatkan sertif-ikat. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa Guru pada SMP di Tulungagung masih perlu meningkatkan kemampu-an mereka dalam membuat media belajar yang kreatif ajar. Pelatihan mempunyai efektivitas dan efisiensi yang tinggi karena para guru Bahasa Inggris dituntut untuk mampu membuat media belajar yang kreatif. Kata Kunci: Media, Minat Belajar,Bahasa Inggris I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang masalah Kita semua mafhum bahwa kemampuan berbahasa Inggris merupakan suatu keharusan untuk bertahan da-lam kompetisi global. Kenyataannya, kemampuan berbahasa Inggris siswa sewaktu mengenyam pendidikan di tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah umum (SMU), bahkan di ting-kat perguruan tinggi pun belum optimal dan cenderung terjadi penurunan kualitas yang dimiliki siswa dari tahun ke tahun. Kondisi ini dipertegas oleh Prof. DR. Veronica Listyani Diptoadi, M.Sc. dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Unika Widya Mandala Surabaya dengan judul Teaching English as a Foreign Language and Reading pada tanggal 26 Januari 2003. Muatan pendidikan yang menekankan kecakapan atau keterampilan hidup (life skills) antara lain ditunjukkan dengan kemampuan berbahasa asing di samping berbahasa Indonesia (Undang-Undang No.25 tahun 2000 tentang Propenas 2000-2004). Sebagai alat komunikasi, bahasa Inggris akan tetap menjadi "the world standard language" sebagaimana proyeksi para pakar di majalah The Economist. Oleh karena itu bahasa Inggris menjadi salah satu keterampilan hidup yang harus dikuasai setiap siswa agar mereka memiliki keunggulan kompetitif baik dalam memasuki dunia kerja maupun ketika hendak meneruskan ke perguruan tinggi. Porsi pembelajaran bahasa Inggris di SMP dan SMU sebenarnya cukup memadai karena meru-pakan mata pelajaran wajib. Di SMP, bahasa Inggris diajarkan selama 4 jam pelajaran (@45 menit) per minggu. Sedangkan di SMU, bahasa Inggris diajarkan selama 4 jam per minggu di kelas satu dan dua. Ketika menginjak kelas tiga, para siswa mendapat porsi pelajaran bahasa Inggris selama 5 jam per minggu untuk jurusan Sosial dan IPA; sedangkan jurusan Bahasa mendapat 11 jam pelajaran per minggu. Saat ini, masyarakat mengeluhkan tentang rendahnya kemampuan siswa dalam berbahasa Inggris. Keluhan yang sama juga dirasakan oleh perguruan tinggi yang menerima mahasiswa tamatan SMU. Banyak di antara mereka yang diminta menyelesaikan tugas membaca buku berbahasa Inggris merasa kewalahan bahkan tidak "bunyi" sama sekali, meskipun harus diakui ada beberapa siswa yang memiliki kemampuan bahasa Inggris bagus. Di antara sekian faktor salah satunya adalah karena kehidupan kelas yang membosankan. Secara umum kondisi kelas yang jauh dari rasa menggairahkan proses pembelajaran bahkan memenjarakan kecerdasan siswa sebenarnya sudah menjadi objek kritik pedas dalam kemasan sinisme, satire, dan sarkasme yang menohok kenyataankenyataan praktek pendidikan di lapangan. Bahkan kritik itu ditulis dalam berbagai buku misalnya The End of School oleh Everet Reimer dan Pedagogy of the Opressed dalam pandangan Paulo Freire serta The End of Education menurut Neil Postman.
fatcat:imcvgwrwx5hohjsndyg4j5csom