Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa melalui Blended Learning Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa melalui Blended Learning Berbasis Pemecahan Masalah

Afria Rizqi, Guru Matematika, Smk Maarif, Tegalsambi Jepara, Jalan Sunan, Mantingan No, Tahunan Tegalsambi, Jepara
unpublished
Abstrak Artikel hasil kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis siswa dalam pembelajaran blended learning berbasis pemecahan masalah. Hal ini dilatarbelakangi adanya penggunaan internet dalam pendidikan yang masih minim. Blended learning merupakan pembelajaran yang memadukan keunggulan pembelajaran tatap muka secara langsung dan pembelajaran online (e-learning) yang dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Masih sedikit penerapan pembelajaran blended learning
more » ... n blended learning yang menggunakan ciri khas tertentu sehingga dibutuhkan blended learning yang berbeda dengan lainnya. Dengan blended learning berbasis pemecahan masalah siswa dapat mengembangkan pengetahuan pemecahan masalahnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran ini siswa saling berinteraksi, berdiskusi, bertukar pendapat atau ide mengenai permasalahan tertentu yang dapat melatih kemampuan komunikasi matematisnya. Namun berdasarkan pengamatan peneliti saat melakukan uji coba soal pemecahan masalah di kelas VII D SMP Maarif Jepara masih banyak siswa yang mengalami kesulitan saat pengungkapan simbol-simbol matematis. Blended learning berbasis pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan komunikasi matematis siswa sehingga mereka mampu dalam menggunakan ide matematikanya, memahami dalam memecahkan masalah matematika yang dituangkan baik dalam lisan maupun tulisan. Kata Kunci: Komunikasi Matematis, Blended Learning, Pemecahan Masalah A. Pendahuluan Perkembangan teknologi dan pertumbuhan penggunaan internet di Indonesia beberapa tahun terakhir telah mengalami peningkatan. Hal ini dikuatkan adanya hasil survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang menyimpulkan bahwa pada tahun 2012 pengguna internet sebesar 63 juta orang sedangkan tahun 2013 sebesar 71,19 juta pengguna, jadi pertumbuhannya selama setahun mencapai 13% dengan penetrasi internet Indonesia sekitar 28% dari jumlah penduduk Indonesia. Peningkatan yang signifikan terjadi selama tahun 2014 menunjukkan pengguna internet naik menjadi 88,1 juta atau dengan kata lain penetrasi sebesar 34,9% (APJII, 2014). Moayeri (2014) mengatakan bahwa dengan melihat meningkatnya penggunaan internet di negara-negara maju dan ada berbagai jenis pendidikan yang menggunakan internet dapat memberikan peluang sangat berguna dalam meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir. Namun pada kenyataannya penggunaan internet dalam pendidikan di Indonesia masih minim. Berdasarkan survei APJII, dilihat dari sektor pekerjaan, mayoritas internet di Indonesia digunakan pada sektor perdagangan dan jasa sebesar 31,5%, selanjutnya bidang jasa sebesar 26,1%, bidang pendidikan sebesar 8,3%, bidang pemerintahan sebesar 7,0%, bidang keungan atau perbankan sebesar 5,6%, otomotif sebesar 3,3%, konsultan sebesar 3,2%, manufaktur sebesar 3,2%, properti sebesar 1,7%, kesehatan sebesar 1,7%, hiburan sebesar 1,3%, perhotelan atau restoran atau kuliner sebesar 1,0%, dan argo (perkebunan atau pertanian) sebesar 1,0% (APJII, 2014). Berdasarkan data tersebut sangat disayangkan prosentase penggunaan internet dalam pendidikan di Indonesia hanya 8,3% yang menunjukkan bahwa penggunaan internet di Indonesia masih terbatas. Sudah diketahui bahwa penggunaan internet dalam pendidikan masih rendah padahal banyak manfaat internet yang dapat diintegrasikan dalam pendidikan. Implementasi dari pemanfaatan internet untuk pembelajaran salah satunya adalah e-learning. Menurut Westover dan Westover (2014) siswa dapat melakukan pembelajaran online (e-learning) cukup baik dengan
fatcat:zjg7oyv4evet5jhgecjb2tmeki