Nasionalisme dan kelas sosial: Ideologi dan praktik partai nasionalis di Indonesia

Retor Kaligis
2014 Masyarakat, Kebudayaan dan Politik  
This study explores poor people or negative ownership class phenomena as result of exploitative ideology by using power including exploitation of natural resource and placement of population as cheap labor. This study explores poor people or negative ownership class phenomena as result of exploitative ideology by using power, including exploitation of natural resource and placement of human resources as cheaper labor. Although many studies about Indonesian nationalism were conducted previously,
more » ... but generally the study of nationalism in relation to the poor people class in Indonesia are not the main focus of the study.This article using qualitative research method. In order to compare different phenomena in various periods, this article uses historical comparative research method. There were five levels in historical comparative research. First, is conceptualizing the object of inquiry. Second is locating the evidence. Third is evaluating quality of evidence. Fourth is organizing evidence. Fifth is syntesizing. An open interviewed was conducted with stakeholders whose directly involved in many cases within several political party bodies such as Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Data was analyzed by social, cultural, and political interpretation. It can be concluded tht in national politic constellation, the phenomena of poor class produce a defense term for their group, known as 'marhaen' and 'wong cilik'. Nevertheless, nationalism practice in Indonesia as represented by PNI, PDI, dan PDI Perjuangan, have not yet succedeed to freed poor people from social aleniation in political power contestation, the ownership of capital, or in relations between state and government. This nation still struggled to build competitive political and economical power in order to reate a social transformation. Abstrak Penelitian ini adalah studi tentang fenomena rakyat kecil atau kelas kepemilikan negatif sebagai akibat ideologi eksploitatif melalui penggunaan kekuasaan, menyangkut eksploitasi sumber daya alam dan penempatan penduduknya sebagai sumber tenaga murah.Walaupun banyak kajian tentang nasionalisme Indonesia ditulis, akan tetapi umumnya pembahasan nasionalisme dalam hubungannya dengan rakyat kecil di Indonesia tidak menjadi pusat kajian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Untuk memperbandingkan fenomena pada masa yang berbeda digunakan historical-comparative research. Terdapat lima tahap dalam penelitian perbandingan sejarah. Pertama, mengonseptualisasi obyek penyelidikan (conceptualizing the object of inquiry). Kedua, menemukan bukti (locating evidence). Ketiga, mengevaluasi kualitas bukti (evaluating quality of evidence). Keempat, mengorganisir bukti (organizing evidence). Kelima, melakukan sintesis (syntesizing). Dilakukan wawancara terbuka dengan sejumlah kalangan yang kompeten/terlibat langsung dalam berbagai peristiwa di PNI, PDI, dan PDI Perjuangan. Analisis data dilakukan dengan cara melakukan interpretasi sosial, kultural, dan politik. Dapat disimpulkan bahwa dalam politik nasional, fenomena rakyat kecil dan kemiskinannya melahirkan istilah khasnya sebagai pembelaan terhadap mereka, yakni marhaen dan wong cilik. Meski begitu, praktik nasionalisme di Indonesia, sebagaimana direpresentasikan oleh PNI, PDI, dan PDI Perjuangan, belum berhasil membebaskan rakyat kecil dari penutupan sosial dengan pengucilan dalam medan konflik dan kompromi antar kekuatan politik lain, kekuatan modal, maupun relasi dengan negara dan pemerintah.Bangsa ini mengalami kesulitan membangun politik-ekonomi yang berdaya saing untuk melakukan transformasi sosial. Kata Kunci: nasionalisme, partai politik, kepemilikan kelas negatif Kaligis: "Ideologi dan praktik partai nasionalis di Indonesia"
doi:10.20473/mkp.v27i22014.83-95 fatcat:rleuthtxufbg7nqnnzarubmcvu