KRITIK TERHADAP FILSAFAT PROGRESIVISME DALAM PENDIDIKAN BAHASA

Oleh Ikhsanudin
unpublished
Abstrak:Pikiran filsafat pendidikan progresivisme telah merasuk ke dalam pendidikan bahasa, khususnya melalui filsafat pragmatisme bahasa dan pengajaran pragmatik. Rasukan tersebut telah mereduksi hakikat manusia menjadi sekadar makhluk individu dan makhluk sosial sehingga pengajaran bahasa melupakan hakikat manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Karenanya, perlu ada perluasan pemikiran dan pemerkayaan sudut pandang dalam kajian bahasa dan pengajaran bahasa. Kata Kunci:
more » ... ata Kunci: Progresivisme, bahasa, pendidikan Pendahuluan Kajian historis mengenai pengaruh pikiran-pikiran filsafat pendidikan progresivisme John Dewey ke dalam pemikiran kebahasaan dan pendidikan bahasa telah dibahas dalam jurnal ini Volume 7 Nomor 1 (Ikhsanudin 2009). Dengan mengacu pada kajian tersebut, terutama hal-hal yang terkait dengan karya-karya Dewey dan pendukungnya (Dewey, John dan John L. Childs. 1933:68 dan Dewey 1967), kajian ini dilakukan untuk meninjau pengaruh tersebut secara lebih mendalam. Oleh karena itu, hal-hal elementer terkait inti pikiran progresivisme dan pengaruhnya dalam pendidikan bahasa tidak perlu lagi disinggung dalam kajian ini. Filsafat progresivisme telah sangat merasuk dalam kajian bahasa dan pendidikan bahasa, terutama melalui pandangan-pandangan pragmatisme telah menjadi pusat kajian kebahasaan maupun pendidikan bahasa. Bahkan, dalam kajian linguistik telah tumbuh suatu disiplin yang bernama pragmatik (pragmatics). Istilah pragmatisme mula-mula berasal dari bahasa Latin "pragma" atau "pragmat-" yang berarti tindakan yang dilakukan secara sengaja atau secara sadar. Istilah tersebut pada abad 19 diserap ke dalam bahasa Inggris dengan padaan "deed". Di dalam kajian filsafat, pragmatisme adalah suatu pendekatan atau cara berpikir yang menilai kebenaran makna suatu teori atau kepercayaan atas dasar keberdayagunaannya atau keberhasilannya dalam penerapan praktis. Dalam pendidikan, filsafat pragmatisme menekankan keberhasilan peserta didik dalam belajar untuk menghadapi keadaan sosial pada masa depannya. Pandangan tersebut beririsan dengan pandangan progresivisme terutama pada relativitas kebenaran. Meskipun ada perbedaan, karena pragmatisme memandang kebenaran pada keberdayagunaan (efektivitas) atau keberhasilan dalam melakukan sesuatu sementara progresivisme memandangnya sebagai sesuatu yang dinamis dan berkembang secara positif (Ikhsanudin 2009), keduanya tidak memiliki perhatian kepada kebenaran mutlak. Fokus utama tulisan ini adalah kandungan pemikiran progresivisme dalam pendidikan bahasa pada, terutama yang terjadi pada abad XX. Untuk menguraikannya diperlukan dua sub fokus kajian, yaitu filsafat progresivisme John Dewey dan pandangan kritis Penulis. Subkajian filsafat progresivisme Dewey hanya diuraikan
fatcat:3kog4i4wt5cdrmskrs2bko2nae