Konsep Akhlak menurut Ibn Miskawaih

Syafa'atul Jamal
2017 Tasfiyah  
This article tries to explain the concept of Akhlak based on Ibn Miskawayh prespective, a concept based on the most important aspects in human beings,namelys; the soul (nafs). Simply, Ibn Miskawayh charted that; power that exist in the human soul can be divided into at least three, including an al-nafs- Nāt} iqah, al-nafs al-Sabū'iyyah and alnafs al-Bahīmiyyah. The three powers have their own characteristics and task, which can sometimes outdo each other with each other. However, on the other
more » ... ver, on the other hand, they also can be balanced and harmonious. Both of these conditions have the same logical consequences in very different ways. First, if these capacities can be harmonized, then it may quite certainly cauising havoc and misery, either for themself or any other creatures. Second, if they can be balanced as well as in its portion, then that person will get the ultimate happiness and will be reflected in the admirable characteristic. Under this concept, Ibn Miskawayh regarded as one of the figures which were quite successfully systematizing the discussion of akhlak. So some figures afterwards are not awkward for adopting several variables. Abstrak Tulisan ini berusaha menjelaskan konsep Akhlak Ibn Miskawaih, yaitu sebuah konsep yang didasarkan pada aspek paling utama dalam diri manusia yaitu jiwa (nafs). Secara sederhana Ibn Miskawaih memetakan bahwa daya yang ada pada jiwa manusia setidaknya dapat dibagi menjadi tiga, di antaranya al-nafs-Nāt} iqah, al-nafs al-Sabū'iyyah and al-nafs al-Bahīmiyyah. Ketiga daya ini memiliki karakteristik dan tugas masing-masing yang terkadang bisa saling mengalahkan antara satu dengan lainnya. Namun demikian Syafa'atul Jamal 52 TASFIYAH: Jurnal Pemikiran Islam di sisi lain, ketiganya juga dapat seimbang dan harmonis. Kedua keadaan ini sama-sama memiliki konsekuensi logis yang sangat berbeda. Pertama, jika seandainya ketiga daya tersebut tak dapat harmonis, maka cukup dapat dipastikan akan menimbulkan malapetaka serta kesengsaraan, baik bagi dirinya maupun orang atau makhluk lain. Kedua, bila ketiganya dapat seimbang serta pada porsinya, maka orang tersebut akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki dan hal itu tercermin dari akhlak terpujinya. Melalui konsep ini, Ibn Miskawaih dipandang sebagai salah satu tokoh yang cukup berhasil mensistematiskan pembahasan mengenai akhlak. Sehingga beberapa tokoh setelahnya juga tak canggung untuk mengadobsi beberapa variabelnya. Pendahuluan Akhlak adalah satu di antara tiga kerangka dasar ajaran Islam (aqidah, syari'ah dan akhlak) yang juga mempunyai kedudukan penting. 1 Wujudnya merupakan bukti konkrit dari penerapan aqidah dan syari'ah. Selain itu, juga menjadi gambaran dari kualitas keimanan seorang mukmin. Ibn Qoyyim dalam fawāid nya mengatakan bahwa perbuatan anggota badan dapat menjadi bukti keimanan seseorang selain nilai spiritualitas batinnya. Sebab, menurutnya iman memiliki dua bentuk, yaitu zahir dan batin. Pertama, dapat berupa ungkapan lisan maupun perbuatan anggota badan, sedangkan kedua, adalah kepercayaan hati, ketundukan dan kecintaan. 2 Namun demikian, hal yang zahir ini tidak akan mempunyai manfaat manakala batinnya kosong dari keimanan, meskipun tindakan dan pengorbanan tersebut besar serta berat. 3 Melihat urgensi akhlak tersebut, maka tak heran jika banyak ulama' yang membahasnya. Diantaranya adalah Abu Bakar al-Razi, Ibn Miskawaih, 1 Secara garis besar menyangkut tiga hal besar, yakni Aqidah, Syariah dan Akhlak. Aqidah merupakan aspek ajaran yang berkaitan dengan keyakinan. Sedangkan syari'ah banyak bersinggunan dengan hukun atapun tata cara. Akhlak berkaitan dengan perilaku. Namun ketiganya selalu berkaitan satu dengan lainnya. Muhammad Sayyid Thanthawi, al-' Aqīdah wa al-Akhlak, (Mesir: Nahdhatu Mishra, T.Th), 204. 2 Imam Syamsuddin Abu Abdillah Ibnu Qayyim al Jauziyyah, al-Fawāid, (Bairut: Dar al-Fikr, 1993), 93. 3 Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur'an 24: 29, 25: 23 bahwa orang-orang yang melakukan kebaikan sebesar apapun, namun tidak ada satu titikpun dalam hatinya keimanan kepada sangan Maha Pencipta, maka amalan-amalan mereka bagaikan fatamorgana dan tidak akan mendapatkan sedikitpun balasan kebaikan darinya. Ibn Kathir al-Qurshi ad-Damashqi, Tafsīr al-Qur'ān al-' Aẓīm, Tahqiq: Mahmud Hasan, (T.K: Dār al-Fikr, 1994), 3/360, 381-383. Konsep Akhlak menurut Ibn Miskawaih 53
doi:10.21111/tasfiyah.v1i1.1843 fatcat:lw45s4oik5ai5hwzfhinomra2m