IDENTIFIKASI KEBERADAAN RARE EARTH ELEMENTS TIPE ION ADSORPTION PADA LEMPUNG: SAMPEL DARI MUNTOK DAN LUBUK BESAR, PULAU BANGKA

Syafrizal Syafrizal, Arie Naftali Hawu Hede, Andy Yahya Al Hakim, Mutiara Indah Permatasari
2021 Jurnal GEOSAPTA  
ABSTRAK Seiring berkembangnya teknologi, kebutuhan akan logam tanah jarang (rare earth element-REE) semakin meningkat, dan oleh karena itu kegiatan eksplorasi REE menjadi meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi REE tipe ion adsorption pada lempung yang merupakan hasil dari lapukan granit. Sampel diambil dari lapukan batuan granit yang bersumber dari batolit Klabat (daerah Muntok) dan batolit Bebulu (daerah Lubuk Besar). Analisis laboratorium yang dilakukan pada penelitian ini
more » ... menggunakan uji X-ray diffraction (XRD), X-ray fluorescence (XRF), dan inductively coupled plasma mass spectrometry (ICP-MS). Hasil analisis laboratorium menunjukkan adanya perbedaan intensitas mineral kuarsa dan kaolinit, komponen major element, dan pola REE yang berbeda pada kedua daerah penelitian. Berdasarkan hal tersebut diidentifikasi adanya potensi REE tipe ion adsorption pada sampel yang diambil pada daerah Lubuk Besar. Hal ini ditandai dengan pola REE yang sesuai dengan zona pelindian dan zona akumulasi REE, serta konsentrasi heavy REE (HREE) yang lebih tinggi daripada sampel yang diambil di lokasi Muntok. Kata kunci: rare earth element, ion adsorption, lempung PENDAHULUAN Seiring berkembangnya teknologi yang semakin pesat, kebutuhan akan logam tanah jarang (rare earth element-REE)(Goodenough et al., 2017) sebagai salah satu material yang dibutuhkan untuk suatu produk industri tertentu makin meningkat pula. Perkembangan teknologi ini juga selaras dengan digaungkannya Sustainable Development Goals 2030 di berbagai negara yang menyebabkan trend menggunakan sumber energi ramah lingkungan dengan menggunakan mineral sebagai bahan baku sumber energi, konversi energi, kendaraan listrik serta industri elektronika lain(Zhou et al., 2017)). Unsur-unsur yang termasuk REE adalah scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu), dan yttrium (Y). REE-Li merupakan mineral strategis yang menjadi salah satu bahan baku untuk teknologi ramah lingkungan, contohnya logam Nd, Pr, Dy dan Tb menjadi bahan penting dalam pembuatan motor listrik dan generator mobil hybrid, sedangkan kelompok logam La, Nd dan Ce merupakan bahan penting dalam pembuatan baterai mobil hybrid NiMH, dan logam Li yang menjadi bahan baku baterai Liion yang memiliki daya pakai lebih lama, mudah diisi ulang dan dapat didaur ulang. Saat ini pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan infrastruktur pengolahan greentechnology, dimana hal ini harus ditunjang dengan ketersediaan bahan baku komoditi, salah satunya REE-Li. Namun, informasi mengenai kajian potensi sumberdaya REE-Li di Indonesia masih sangat terbatas. Sumberdaya REE-Li di endapan primer terdapat pada batuan granit yang termineralisasi oleh mineral pembawa REE-Li seperti monazite, xenotime, allanite, apatite, zircon, titanite, lepidolite, petalite, amblygonite dan zinnwaldite sepanjang proses magmatik tahap akhir dimulai dari pembentukan granit-pegmatit hingga hidrotermal. Selain itu, sumberdaya REE-Li juga terdapat pada endapan sekunder hasil perombakaan batuan granit berupa
doi:10.20527/jg.v7i2.10897 fatcat:uhh5fzjqujgthb7fzuzzcvodbi