PENGARUH REINFORCEMENT GURU TERHADAP KOMPETENSI AFEKTIF SISWA SMA JAKARTA TIMUR DALAM MEMINIMALISIR BERITA HOAX

Agus Abdillah, Hendro Prasetyono
2019 Research and Development Journal of Education  
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh reinforcement guru terhadap kompetensi afektif siswa SMA Jakarta Timur dalam meminimalisir berita hoax di media sosial online. Jenis penelitian ini adalah deskriptif asosiatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA di Jakarta Timur tahun ajaran 2017/2018 yang sebelumnya dipilih secara kluster berjumlah 1.793 siswa. Selanjutnya pengambilan sampel dengan proportional random sampling diperoleh sampel
more » ... iperoleh sampel sebanyak 95 siswa. Teknik analisis data adalah analisis deskriptif dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan reinforcement guru terhadap kompetensi afektif siswa SMA Jakarta Timur dalam meminimalisir berita hoax di media sosial online. Koefisien determinan (R 2 ) yang diperoleh (0,333) 2 sebesar 0,111. Hal ini menunjukkan bahwa reinforcement guru memberikan kontribusi terhadap kompetensi afektif siswa sebesar 11,1%, sedangkan sisanya sebesar 88,9% disumbangkan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Kata kunci: Kompetensi Afektif Siswa, Reinforcement Guru, SMA di Jakarta Timur PENDAHULUAN Istilah berita hoax sebenarnya sudah lama beredar seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi. Media sosial berbasis smart phone seperti Facebook, Line, BBM, WhatsApp, GoogleApp, dan sederet aplikasi media sosial online lainnya dewasa ini seolah-olah menjadi kebutuhan pokok masyarakat, tidak ketinggalan pula pada kalangan remaja atau siswa. Harga smart phone yang relatif terjangkau, membuat siswa mudah memilikinya. Fenomena saat ini, media sosial online bagi siswa merupakan ajang untuk mempererat persahabatan, mendapatkan teman baru, berbagi atau sharing/curhat, aktualisasi diri, dan sering dijadikan ajang untuk mempromosikan barang dan jasa. Dengan kata lain belajar menjadi pebisnis kecil-kecilan berbasis online/ecommerce. Hal itu tidak menjadi masalah sepanjang dalam koridor etika yang benar. Artinya kehadiran media sosial online memiliki peran positif bagi siswa. Kenyataan yang terjadi sekarang ini, beberapa komunitas yang berstatus siswa sering berkata atau menulis pesan yang kurang layak, tidak santun, tidak jujur, kurang toleransi, tidak bertanggungjawab, illegitimate, dan lain sebagainya yang justru menimbulkan masalah atau konfliks.
doi:10.30998/rdje.v5i1.3383 fatcat:outmqccizrfbfb7vgclgxdgxui