Analisa Kuantitatif dan Kualitatif Potensi Likuifaksi

Wahyu Budi Kusuma, Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi
2020 Majalah Ilmiah Swara Patra  
ABSTRAK Pada tahun 2018, tepatnya pada tanggal 28 September, Indonesia dikejutkan dengan fenomena bergerak dan amblasnya semua yang ada di permukaan baik berupa bangunan maupun tanaman di daerah Petobo dan Balaroa, setelah gempa berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang Palu, Sulawesi Tengah. Fenomena ini dikenal dengan likuifaksi. Apakah likuifaksi itu? Mengapa bisa terjadi? Bagaimana proses terjadinya? Bagaimana mengatasinya? Pertanyaan tersebut menjadi trending topic pasca gempa palu.
more » ... gempa palu. Tulisan ini disusun dari berbagai sumber dan pendapat para ahli dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas. Likuifaksi merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di daerah dengan kondisi tanah yang jenuh air, muka air tanah dangkal dan jenuh air. Potensi likuifaksi suatu wilayah dapat diprediksi secara kualitatif dan kuantitatif Analisis kualitatif digunakan untuk skala regional sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk skala detil Penyusunan zona potensi likuifaksi dapat dilakukan dengan menggunakan nilai Liquefaction Potential Index (LPI), Liquefaction Severity Index (LSI) dan Liquefaction Risk Index (LRI). Metoda yang umum dilakukan untuk menentukan potensi likuifaksi adalah dengan menghitung kekuatan tanah menahan likuifaksi akibat gempa (cyclic resistance ratio (CRR)) dan tegangan geser tanah akibat gempa (cyclic stress ratio (CSR)). CRR dan CSR dihitung dari data yang diperoleh dengan melakukan self penetration test (SPT) atau cone penetration test (CPT). ABSTRACT In 2018, precisely on September 28, Indonesia was shocked by the phenomenon of movement and the collapse of everything on the surface in the form of buildings and plants in the Petobo and Balaroa regions, after an earthquake measuring 7.4 on the Richter scale shook Palu, Central Sulawesi. This phenomenon is known as liquefaction. What is the liquefaction? How did it happen? How is the process happening? How to overcome it? The question became a trending topic after the earthquake. This paper is compiled from various sources and opinions of experts in order to answer the questions above. Liquefaction is a natural phenomenon that usually occurs in areas with water-saturated soil conditions, shallow ground water levels and water saturation. Potential liquefaction can be predicted qualitatively and quantitatively. Qualitative analysis is used for regional scales while quantitative analysis is used for detailed scales. The compilation of potential zones of Majalah Ilmiah Swara Patra Vol 10 No. 2 Tahun 2020 6 liquefaction can be done using the value of Liquefaction Potential Index (LPI), Liquefaction Severity Index (LSI) and Liquefaction Risk Index (LRI). Common methods for determining liquefaction potential are by calculating the strength of the ground to prevent liquefaction due to earthquake called cyclic resistance ratio (CRR) and shear stress due to earthquake called cyclic stress ratio (CSR). CRR and CSR are calculated from data obtained by conducting a self penetration test (SPT) or cone penetration test (CPT). PENDAHULUAN Tsunami menjadi bahan pembicaraan umum di lingkungan masyarakat Indonesia sejak terjadinya gempa Aceh 26 Desember 2004. Sejak saat itu setiap ada kejadian gempa maka orang bertaya-tanya apakah berpotensi tsunami? Tsunami seolah-olah melekat pada setiap kejadian gempa. Pada tahun 2018, tepatnya pada tanggal 28 September, Indonesia dikejutkan dengan fenomena bergerak dan amblasnya semua yang ada di permukaan baik berupa bangunan maupun tanaman di daerah Petobo dan Balaroa, setelah gempa berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang Palu, Sulawesi Tengah. Fenomena ini dikenal dengan likuifaksi. Apakah likuifaksi itu? Mengapa bisa terjadi? Bagaimana proses terjadinya? Bagaimana mengatasinya? Pertanyaan tersebut menjadi trending topic pasca gempa palu. Tulisan ini disusun dari berbagai sumber dan pendapat para ahli dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas.
doi:10.37525/sp/2020-2/251 fatcat:jpkky5hatbdfzk2w5f7yghktpe