Kearifan Lokal Sintuwu Maroso sebagai Simbol Moderasi Beragama

Muhammad Nur
2020 PUSAKA  
Moderasi beragama akan menjaga kemajemukan dalam masyarakat dan tidak mengandug paham tertentu, modal sosial merupakan nilai yang dimiliki oleh individu maupun kelompok yang dapat menjadikan mereka saling menghargai. Pluralisme sebagai elemen pengikat dan pemersatu bangsa, sedangkan perpecahan akan menimbulkan sikap ekstrem yang bisa memusuhi dan tidak memiliki faktor pemersatu. Kesadaran ini harus dibangun dengan sikap yang mengharuskan setiap individu atau kelempok dengan mengedepankan
more » ... engedepankan keseimbangan. Penelitian ini membahas nilai yang terkandung dalam Kearifan Lokal Sintuwu Maroso dapat di katakan bagian dari moderasi beragama serta bagaimana efektifitas nilai Sintuwu Maroso membangun dinamika moderasi beragama juga strategi apa yang mengandung unsur moderasi beragama dapat di implementasikan dalam kebijakan. Metode penelitian deskriptif kualitatif yang di gunakan dalam penelitian ini, melalui penelusuran kearifan lokal di masyarakat Pamona Poso. Dengan melakukan analisis data, informan penelitian terdiri dari informan kunci, informan ahli dan informan biasa, teknik wawancara sebagai instrumen pengumpulan data untuk mendukung penelitian. Hasil penelitian ini menemukan banwa Budaya Sintuwu Maroso merupakan budaya yang di miliki oleh Suku Pamona Poso, Tau Piamo (orang dahulu) merupakan leluhur mereka yang mewarisi budaya ini yang mempunyai ruh yaitu Mesale (gotong royong), mengandung nilai luhur yang bermanfaat dalam kehidupan sosial masyarakat. Kebijakan Pemerintah Daerah untuk menjadikan lambang Adat Suku Pamona Poso sebagai logo dan motto daerah, kesediaan masyarakat dalam mengikuti aktifitas yang disebut dengan istilah Mosintuwu, yaitu turut merasakan kesusahan orang lain dalam bentuk memberi sesuatu, dasarnya adalah kebersaamaan yang merupakan salah satu bangunan relasi sosial. Kebijakan strategis pemerintah daerah seperti himbauan untuk turut berpasrtisipasi dalam pesta adat, membangun simbol budaya, memasukan mata pelajaran muatan lokal pada satuan pendidikan, ikut sertanya aparat pemerintah dalam menjaga dan melestariankan nilai luhur budaya dari warisan para leluhur mereka.
doi:10.31969/pusaka.v8i2.423 fatcat:7sjyguat7rbhpf4mpnkw7x22ka