'Menunggu Godot' Peradilan HAM dan Tanggung Jawab TNI

Eko Prasetyo
2002 Unisia  
The emerging ofHuman Rights Courtparticularlyfor the Indonesian National Army, the myths regarding patriotic and war should be disarmed and the responsibility should be carried out In this context, the norm of human right prepares an effec tive service for those who become the victims of naive nationalism or stability in appearance. Practising of responsibility stated above has large implication, namely choosing the action of security must consider four important factors: (i) whether the action
more » ... aforementioned is in accordance with law, (2) is it proportionally?, (3) is it coincide with the ethics ?, and (4) that the action is really needed and accepted by society. According to writer that described four considerations must be guid ance, instead, it needed to be organization formulation so that they do not moti vate the Indonesian National Army return to dark eras. Mereka yang memerangi rakyat untuk cukup serius dan berat, yakni kejahatan menghentikan kebebasan dan HakAsasi terhadap kemanusiaan. Kejahatan yang Manusia harus dilawan bukan sebagai dulu dengan angkuh dilakukan untuk musuh biasa, tetapi sebagai pembunuh menjaga stabilitas dan keamanan, terbukti dan bandit pemberontak telah memakan nyawa banyak warga sipil (Robespierre) yang tidak berdosa. Begitulah, dalani terjemahan HAM, kejahatan terhadap Barangkali kita tidak pernah kemanusiaan tergolong merupakah menyangka, ia duduk di depan majelis pelanggaran HAM berat. Dan itu sama hakim untuk kasus yang nilainya sepadan, dengan yang sekarang ini, didakwakan oleA dengan apa yang teijadi pada masa Hitler. Mahkamah Pidana International, yang Dengan baju seragam dan dukungan dari berkedudukan di Belanda, terhadap beberapa. petinggi militer, sejumlah aparat seorang mantan penguasa sekaligus kepolisian dan TNI, kini diadili oleh penjagal, yakni Slobodan Milosevicl Peradilan HAM yang ada di Jakarta, mantan pemimpin Yugoslavia. Begitulah Dakwaan yang ditimpakan pada mereka, nasib muram yang menimpa beberapâ
doi:10.20885/unisia.vol25.iss44.art9 fatcat:5h655srpmfa35lzw72alff6kdu