Analisis Atas Indonesia "Penutupan Tiga Bangunan Gereja di Kota Jambi, Tanpa Adanya Surat Penyegelan" (Negara Kekuasaan, Pengurus, Kesatuan, Kekeluargaan, Federal, atau Negara Agama?) [post]

Emanuel Haridastian
2019 unpublished
AbstrakPaper ini berjudul Analisis Atas Indonesia "Penutupan Tiga Bangunan Gereja di Kota Jambi, Tanpa Adanya Surat Penyegelan" (Negara Kekuasaan, Pengurus, Kesatuan, Kekeluargaan, Federal, atau Negara Agama?). Pembuatan paper menggunakan metode penganalisisan sebuah kasus yang terjadi dan ditinjau menggunakan teori-teori pembelajaran yang terdapat pada buku Diskursus Filsafat Pancasila. Data kasus yang di pakai dalam penulisan paper ini adalah berita kasus yang bersumber dari internet dengan
more » ... amat Sumber: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45675216. Paper ini merupakan tugas akhir perkuliahan Pendidikan Pancasila semester IV tahun 2019, dan menjadi syarat mengikuti ujian akhir semester.Hasil analisis yang didapatkan ialah sebagai berikut: Pada analisis kali ini saya akan menggunakan teori Negara dan Agama yang bersumber dari buku Diskusi Filsafat Pancasila Dewasa Ini, karangan DR. Agustinus W. Dewantara, S.S., M.HUM. Indonesia adalah negara kesatuan yang di bentuk oleh tokoh-tokoh terdahulu bangsa Indonesia. Negara yang berlandaskan ideologi dengan dasar negara yang di sebut Pancasila, perundingan pembentukan negara yang dilakukan secara demokrasi dan mufakat pada akhirnya berhasil medirikan suatu negara yang diinginkan bersama yaitu Negara kesatuan Repiblik Indonesia (NKRI).Negara agama, apakah itu? Negara agama artinya, konstitusi yang dibuat sebagai fondasi, negara mencantumkan agama sebagai salah satu fondasinya. Maksudnya, ditulis secara tegas, bahwa agama dari negara ialah demikian. Dari sudut pandang konstitusional seperti ini, Indonesia jelas bukan negara agama. Tetapi, Indonesia juga tidak memiliki elemen-elemen untuk disebut sebagai negara sekuler secara tegas. Negara sekuler artinya negara melepaskan diri dari hegemoni agama. Indonesia masih menyisakan banyak perkara pada soal-soal yang masih berkaitan dengan agama. Agama menjadi salah satu faktor penting untuk menjalankan kehidupan bersama.Jika teori tersebut dikaitkan dengan kasus yang sedang terjadi di kota Jambi, mengenai penutupan gereja tanpa adanya surat penyegelan, maka saya berpendapat bahwa di kota tersebut masih mengalami yang namanya hidup berkelompok dengan golongan tertentu dan masih adanya kegiatan intoleran dengan golongan lainnya.Argumentasi lain, adalah kontradiksi menyisipkan kata-kata rumusan Piagan Jakarat ke Pembukaan UUD 1945, apalagi ke dalam rumusan Pancasila. Kontradiksinya terletak di sini. Yaitu, bahwa aneka seruan dan kosakata dari Pembukaan UUD 1945 dan konstitusi pada umumnya (apalagi kalau itu berkaitan dengan negara demokrasi) ialah kebebasan, hak, keadaan, dan seterusnya.Indonesia didirikan untuk semua warga Indonesia. Dengan kata lain, jangan lagi mengedepankan agama jika sudah berbicara mengenai ke-indonesia-an. Semangat gotong royong bangsa ini sudah terpatri dalam sanubari manusia Indonesia sejak semula. Hebatnya hal tersebut dilalui dengan musyawarah-mufakat dalam mencapai persetujuan bagi kebaikan bangsa yang majemuk secara keseluruhan. Berikut ini merupakan isi selengkapnya mengenai paper yang saya tuliskan.
doi:10.31227/osf.io/x2fk6 fatcat:fhkazuxo4zhzfktdnfguclxnw4