MEMBENDUNG WACANA TENTANG KEBEBASAN DAN HAK ASASI MANUSIA BAGI PENYIMPANGAN SEKSUALITAS DENGAN HUKUM

Dan Dalmeri
unpublished
After the discourse topic of politics, economics, and advanced law, sensual images in the mass media also becomes such a source of national debate in recent period. The problem is increasingly prominent with definitive arguments about the boundaries between pornography and artistic manifestation of the soul. The case appears when the Polices are busy looking for articles for the appointment of this issue as a the legal case, a chief editor who snagged this case would rationalize the cover of
more » ... ize the cover of 'beautiful' magazine as an embodiment of appreciation to the maker of beauty. Although, the impressed by the feel of greatness in the expression editor in chief is, essentially it was nothing more than a pretext or an absurd religious jargon, put forward by someone with the function of cognition and conscience that experienced the deviation. This current paper aims to explaine the relevance of discourse about sexuality and the Law about adultery that will be reviewed from the perspective of forensic psychology. Pendahuluan Silang pendapat mengenai gambar-gambar pronografi atau tindakan pornoaksi bahkan penyimpangan seksualitas di media massa diduga akan tetap bertahan sebagai sesuatu yang kontroversial. Seksualitas yang dimaksud disini memiliki makna yang luas yaitu sebuah aspek kehidupan menyeluruh meliputi konsep tentang seks (jenis kelamin), gender, orientasi seksual dan identitas gender, identitas seksual, erotism, kesenangan, keintiman dan reproduksi. Seksualitas dialami dan diekspresikan dalam pikiran, fantasi, hasrat, kepercayaan ataupun nilai-nilai, tingkah laku, kebiasaan, peran dan hubungan. Meski demikian, tidak semua aspek dalam seksualitas selalu dialami atau diekspresikan. Seksualitas dipengaruhi oleh interaksi faktor-faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, sejarah, agama, dan spiritual. Pada dasarnya, terdapat dua pandangan tentang seksualitas yang saling berseberangan, yaitu antara kelompok yang mendasarkan pemikiran tentang seksualitas pada aliran esensialism, dan kelompok yang lain pada social constructionism. Hal ini dikarenakan lebih dominannya proses internal ketimbang proses eksternal dalam sebuah proses pertukaran pesan. Konsep teoritis ini dijabarkan oleh David E. Hunt dan Edmunt V. Suvillivan dalam buku Between Psycology and Educations yang menyatakan bahwa: "Gambar-gambar perempuan di media massa pada dasarnya merupakan stimulus netral belaka (proses eksternal), sementara pada tahap selanjutnya penginterpretasian serta penilaian atas pose-pose tersebut lebih ditentukan oleh proses psikologis internal masing-masing individu dengan
fatcat:un6vydfyvjfmll5feustzq3fgm