ANALISIS PROKSIMAT, SENYAWA FENOLIK, SIFAT ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI KULIT BUAH Lepisanthes alata

Anton Rahmadi, Yuliadini Puspita, Desy Nursayekti, Ira Sintia Sinaga, Rica Oktalina, Herry Setiawan, Wiwit Murdianto
2016 Jurnal Teknologi dan Industri Pangan  
Bengalun (Lepisanthes alata) is a rare and under-reported fruit native from the forests of Borneo. This fruit is non-seasonal with a thick skin and crimson color, therefore shows potential to be used as raw material for herbal tea. This research was conducted in three phases, namely: (1) to report proximate portions of seed, flesh and skin of the fruit, (2) to find the best combination of time and temperature of fruit skin drying, and (3) to explore the potential antioxidant and antibacterial
more » ... and antibacterial capacity of fruit skin extracts produced in step (2) . Proximate analysis carried out following oven-drying (60C, 12 hours) and sun-drying (8 hours). Combination of oven temperature (40, 50, 60C) and time (8,10,12 hours) was given to find the best drying treatment in terms of vitamin C, total phenols and anthocyanins. Anthocyanins levels approached qualitatively by red color absorbance (=545 nm). The antioxidative capacity was approached with DPPH assay. Inhibition zones were measured against Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Best drying treatment was at 60C for 8 hours with moisture content of 6.730.18%, vitamin C of 76.9±3 mg/100 g, total phenols of 1112±8 mg GAE/kg, and red color absorbance of 0.2590.060. The average IC50 antioxidant activity for the fruit skin extracts was 252.831.38 ppm. Ethanolic extract produced inhibition zones from 10.76% (1.0 mg extract/50 L) to 22.77% (1.5 mg extract/50 L), when compared to the positive control. Aquadest extract produced inhibition zones ranging from 7.99% (0.5 mg/50 L) to 11.00% (1.5 mg/50 L). N-hexane extracts showed no antibacterial activity. ABSTRAK1 Bengalun (Lepisanthes alata) merupakan buah eksotis langka dari Kalimantan. Buah ini tergolong dalam keluarga Sapindaceae yang merupakan buah non musiman dengan kulit tebal dan berwarna merah tua serta dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku teh herbal. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu: (1) melaporkan profil proksimat bagian-bagian buah, (2) menemukan kombinasi terbaik dari waktu dan suhu pengeringan bahan baku herbal dari kulit buah, serta (3) mengeksplorasi potensi antioksidan dan antibakteri ekstrak kulit buah hasil pengeringan terbaik. Analisis proksimat dilakukan terhadap bagianbagian buah yang dikering oven (60C, 12 jam) dan dikering matahari (8 jam). Kombinasi suhu oven (40, 50, 60C) dan waktu (8,10,12 jam) diberikan untuk mencari bahan baku teh herbal terbaik dilihat dari vitamin C, total fenol, dan antosianin. Kadar antosianin didekati secara kualitatif dengan pengukuran absorbansi warna merah (=545 nm). Kandungan antioksidan didekati dengan metode DPPH. Zona inhibisi ekstrak diukur terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Kulit buah terbaik dihasilkan dari pengeringan 60C selama 8 jam dengan kadar air 6,730,18%, vitamin C 76,9±3 mg/100 g, total fenolik 1112±8 mg GAE/kg, dan absorbansi warna merah 0,2590,060. Rata-rata IC50 aktivitas antioksidan terhadap DPPH untuk ekstrak kulit buah bengalun hasil pengeringan terbaik adalah 252,831,38 ppm. Ekstrak etanolik dari kulit buah menghasilkan zona inhibisi dari 10,76% (1,0 mg ekstrak/50 L) menjadi 22,77% (1,5 mg ekstrak/50 L), jika dibandingkan dengan kontrol positif. Ekstrak air suling kulit buah menghasilkan zona inhibisi mulai dari 7,99% (0,5 mg/50 L) hingga 11,00% (1,5 mg/50 L), jika dibandingkan dengan kontrol positif. Ekstrak n-heksana tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S.aureus dan E.coli.
doi:10.6066/jtip.2016.27.2.115 fatcat:iqzx4qk5trhmlfvlfj54xhfur4