KIAI PESANTREN DAN PEMIKIRANNYA TENTANG NUSYUZ (STUDI KASUS DI KABUPATEN JEMBER)

Mohamad Ikrom
2019 HUMANIKA  
Kiai Pesantren tidak sekadar guru. Ia juga menjadi tempat berkeluh kesah semuapersoalan masyarakat. Termasuk dalam masalah perkawinan. Termasuk dalampersoalan perkawinan. Salah satu persoalan itu adalah tentang nusyuz. Nusyuzseringkali ditimpakan pada seorang perempuan (istri) yang seringkali meninggalkanpersoalan relasi gender. Penelitian lapangan ini memotret pandangan Kiai Pesantren diJember Jawa Timur tentang nusyuz. Penelitian kualitatif ini menemukan bahwakefariatifan berfikir Kiaia dapat
more » ... erfikir Kiaia dapat dilihat dari cara-cara mereka berpendapat yangkemudian oleh peneliti dianalisis dengan menggunakan metode Bayani, Qiyasi,Istislahi. Dan dari hasil analisis tersebut ditemukan dua metode istinbath yangdigunakan oleh para kiai Jember, yaitu; istinbath bayani dan istinbath istislahi. Terkaitdengan adanya penafsiran ayat nusyuz, penelitian ini menemukan dua corak penafsiranyaitu (1) corak penafsiran tekstual yang terekam lewat kekakuan mereka ketikamenafsirkan ayat nusyuz, dan lebih menitik beratkan kepada kekuasaan seorang suamiuntuk melakukan sebuah tindakan kepada seorang istri. (2) corak penafsirankontekstual terlihat lewat penafsiran mereka yang lebih cenderung kepada pengkajianulang terhadap ayat-ayat nusyuz sehingga terkesan bahwa nusyuz tidak hanya dimilikioleh istri. Hal ini disebabkan karena adanya pro dan kontra terhadap pemikiran nusyuzyang lebih humanis.Head of boarding school (Kiai Pesantren) is not just a teacher. He also became a place tocomplain about all the problems of the community. Included in the issue of marriage. Includedin the issue of marriage. One of the problems is about Nusyuz. Nusyuz is often inflicted on awoman (wife) who often leaves the issue of gender relations. This field research portrays theviews of Kiai Islamic Boarding Schools in Jember, East Java, about Nusyuz. This qualitativeresearch found that the effectiveness of Kiaia's thinking can be seen from the ways they arguedthat the researchers then analyzed it using the Bayani, Qiyasi, Istislahi method. And from theresults of the analysis found two istinbath methods used by the Jember scholars, namely;istinbath bayani and istinbath istislahi. In connection with the interpretation of the nusyuzverse, this study found two interpretive features, namely (1) the style of textual interpretation recorded through their rigidity when interpreting the verse nusyuz, and more focused on thepower of a husband to take an action to a wife. (2) the style of contextual interpretation can beseen through their interpretation which is more inclined to a reassessment of the nusyuz versesso that it seems that nusyuz is not only owned by the wife. This is due to the existence of prosand cons of the more humanistic thoughts of Nusyuz.
doi:10.21831/hum.v17i1.23122 fatcat:6klo5gno4nerjikahqci5gkmcq