Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Yuni Hermawan, Robertus Sidartawan
2016 unpublished
ABSTRAK Serat sintetis sebagai komponen komposit terbukti mahal dan tidak ramah lingkungan, sedangkan sumber daya alam Indonesia sangat melimpah akan bahan alam dan juga ditunjang sumber daya manusia yang masih banyak membutuhkan bidang garap sebagai lapangan pekerjaan. Sehingga kembali ke alam adalah langkah yang cerdas dan bijaksana untuk kondisi tersebut. Inovasi terhadap bahan alam dilakukan untuk menghilangkan kelemahan pada sifat mekanisnya. Serat tebu dapat dijadikan sebagai komponen
more » ... ebagai komponen komposit laminat. Perbedaan arah serat dan perlakuan alkali akan dijadikan variabel untuk mengetahui sejauhmana pengaruhnya terhadap kekuatan mekanis: kekuatan tarik, bending dan impak, di sisi lain perlu pula untuk mengamati mekanisme kegagalannya dengan bantuan foto makro.. Hasil Pengujian menunjukkan bahwa untuk pengujian kekuatan tarik optimal pada fraksi volume 20% sebesar 1,719 N/mm 2 dan nilai kekuatan impak optimal terjadi pada fraksi volume serat 20% sebesar 0,76 J/mm 2. Dari hasil penelitian ini nilai kekuatan mekanik bahan masuk kedalam Standart Nasional Indonesia SNI, sehingga produk tersebut layak untuk dijual dan digunakan sehingga inovasi yang dihasilkan segera dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Kata kunci: serat tebu, komposit laminat, kekuatan mekanis dan foto makro I. PENDAHULUAN Munculnya issue permasalah limbah nonorganik serat sintetis yang semakin bertambah mampu mendorong perubahan trend teknologi komposit menuju natural composite yang ramah lingkungan. Serat alam mulai menggeser serat sintetis, seperti E-Glass, Kevlar-49, Carbon/ Graphite, Silicone carbide, Aluminium Oxide, dan Boron. Salah satu jenis serat alam yang tersedia secara melimpah adalah serat tebu. Keuntungan penggunaan komposit antara lain ringan, tahan korosi, tahan air, performance-nya menarik, dan tanpa proses pemesinan. Beban konstruksi juga menjadi lebih ringan. Harga produk komponen yang dibuat dari komposit glass fibre reinforced polyester (GFRP) dapat turun hingga 60%, dibanding produk logam (Abdullah dan Handiko, 2000). Salah satu jenis serat alam yang sangat potensial adalah serat tebu. Ampas tebu merupakan limbah dari proses pengolahan gula yang pemanfaatannya belum optimal. Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) ampas tebu yang dihasilkan sebanyak 32% dari berat tebu giling. Sebanyak 60% dari ampas tebu tersebut dimanfaatkan oleh pabrik gula sebagai bahan bakar, bahan baku untuk kertas, bahan baku industri kanvas rem, industri jamur dan lain-lain. Sehingga diperkirakan sebanyak 40 % dari ampas tebu tersebut belum dimanfaatkan. Pemanfaatan serat tebu sebagai bahan penguat material komposit belum maksimal. Selama ini ampas tebu hanya digunakan sebagai bahan bakar pengganti kayu bakar. Melihat dari potensi tersedianya bahan baku, maka penelitian ini diarahkan untuk memanfaatkan serat tebu dari limbah ampas tebu sebagai serat penguat material komposit. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penelitian tentang rekayasa komposit laminat merupakan kajian yang sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut. Pengujian mekanis struktur komposit laminat yang dilakukan mencakup uji tarik (ASTM D638), uji bending (ASTM D790) , uji impak (ASTM D3379) dan foto makro untuk melihat mekanisme patahan komposit. Sehingga permasalahan utama yang penting dikaji adalah perlunya pemanfaatan bahan alam (khususnya serat tebu) sebagai bahan penguat komposit untuk rekayasa penganti struktur logam. Penggunaan bahan alam tersebut dapat digunakan sebagai komponen body mobil listrik. Adapun permasalahan yang diambil adalah: 1. Bagaimana pengaruh fraksi volume (Vf) serat tebu terhadap kekuatan tarik, bending dan impak komposit laminat? 2. Bagaimana pengaruh orientasi arah serat tebu terhadap kekuatan tarik, bending dan impak komposit laminat?
fatcat:epe4ssvqavf7tdligxm44hzdhy