FAKTOR RISIKO ALKOHOLISME TERHADAP PENDERITA TB PARU BTA POSITIF DI PUSKESMAS KAWANGKOAN KABUPATEN MINAHASA

Linda Makalew, Jurusan Kesehatan, Lingkungan Poltekkes, Kemenkes Manado, Jl Manguni, Malendeng
unpublished
The purpose of this study to identify risk factors of alcoholism with smear positive pulmonary TB patients-sex male on Kawangkoan Health Center in 2009. Types of observational analytic study research design in which Case Control Study on the risk factors studied by using a retrospective approach. The population in this experiment were 32 male patients with samples of all members of the population with a ratio of 1: 1. Data obtained from interviews using a questionnaire, but in this study
more » ... n this study through the questionnaire did not test the validity and reliability. Analysis carried out by using test Odds Ratio (OR) to identify major risks, but the day after the chi-square test to see whether a strong relationship variables and answer the research hypothesis. The results are not related or Ho received by naked eye but have a risk of smear positive pulmonary TB patients. To the community to avoid excessive alcohol consumption and to implement the Health Department for more intensive counseling of patients with pulmonary tuberculosis associated with risk of alcohol use. Kata Kunci : Alkohol, Pasien TB Paru Penyakit Tubekolosis (TB) merupakan masalah Kesehatan Masyarakat utama yang menjadi perhatian Badan Kesehatan Dunia (WHO) selama 50 tahun terakhir hingga saat ini, setiap tahunnya sebesar 1 % dari seluruh penduduk Dunia sudah tertular oleh kuman TBC (Walaupun belum terjangkit oleh penyakitnya) kematian akibat TB di Negara berkembang termasuk Indonesia masih tergolong tinggi dan merupakan Negara ke 3 kasus terbanyak penderita TB setelah Cina dan India. Indonesia dengan 3 Orang penderita TB diantara 1000 Penduduk, sementara setiap Tahunnya ada 475.000-500.000 penderita baru dan setiap Tahunnya terdapat 175.000 kematian akibat TBC, data Riskesdas 2007 menunjukan sekitar 7,5 angka kematian Indonesia disebabkan oleh penyakit yang mematikan ini dan menempati urutan ke 2 setelah penyakit Jantung dan pembuluh darah lainnya. Prevalensi TB paru di Provinsi Sulawesi Utara cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur dan prevalensi tertinggi pada usia lebih dari 65 tahun. Prevalensi TB paru 20% lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan, tiga kali lebih tinggi di pedesaan dibandingkan perkotaan dan empat kali lebih tinggi pada pendidikan rendah dibandingkan pendidikan tinggi (Profil Dinkes Sulut, 2008). Target pengendalian TB mencakup: 1. Tercapainya penemuan pasien baru TB menular (Basil Tahan Asam positif/BTA + setidaknya sebanyak 70% dari perkiraan. Angka Penemuan Kasus (Case Detectian Rate) adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati dibandingkan dengan jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan dalam suatu wilayah. 2. Menyembuhkan 85% dari semua pasien tersebut dan mempertahankanya. Angka kesembuhan menunjukkan persentase pasien baru TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien baru TB paru BTA + positif yang tercatat. Penyakit TB paru bukan hanya membawa kerugian terhadap sektor kesehatan dan sosial, tetapi juga terhadap sector ekonomi, karena 75% penderita TB adalah mereka yang berusia produktifsecara ekonomi (15-54 tahun) dan pada kelompok ekonomi lemah serta yang berpendidikan rendah. TB Paru menyebabkan sumberdaya manusia secara ekonomi berkurang, tingkat produktifitas ekonomi menurun, pendapatan berkurang dan pada
fatcat:ilzz4lkwqjfqtcil4v4veksdpq