MODERNITAS PENDIDIKAN PESANTREN Suatu Kajian Konvirgansi Antara Ilmu Pengetahuan Kitab Kuning dan Ilmu Pengetahuan Umum

H Shodiq
unpublished
Madzhab dalam pendidikan Secara umum hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia seutuhnya. Oleh karena itu seluruh bangsa Indonesia harus berpartisipasi aktif dalam mewujudkan cita-cita pembangunan. Pembangunan adalah urusan kita bersama, urusan seluruh bangsa Indonesia, sehingga hampir pasti bahwa pembangunan itu akan berhasil apabila semua kita ikut berpartisipasi aktif di dalamnya, dan partisipasi itu dipengaruhi oleh "... akumulasi pengetahuan, ketrampilan dan sikap-sikap yang
more » ... n sikap-sikap yang dimiliki seseorang atau masyarakat" dan cara yang perlu dipakai untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada masyarakat adalah pendidikan, baik pendidikan umum atau pendidikan agama. Dalam dunia pendidikan, menurut hasil kajian Mastuhu (1994), terdapat empat teori (mazhab) pendidikan, yaitu (1) Empirisme. Aliran ini dipelopori oleh John Locke (1632-1704) dan terkenal dengan teori tabularasa. Teori ini berpendapat, anak dilahirkan dalam keadaan putih bersih, bagaikan kertas kosong, dan selanjutnya terserah kepada orangtua, sekolah, dan masyarakat, ke arah mana kepribadian anak itu dibentuk dan dikembangkan; (2) Nativisme, yaitu aliran yang dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1768-1860) dan terkenal dengan teori bakat. Teori ini berpendapat, anak dilahirkan lengkap dengan pembawaan bakatnya, yang cepat atau lambat akan menjadi kenyataan di kemudian hari; dan (3) Konvergensi, yaitu aliran yang dipelopori oleh William Stern (1871-1939) dan terkenal dengan teori realisme, karena diangap sesuai dengan kenyataan. Teori ini merupakan perpaduan antara aliran Empirisme dan Nativisme, di mana kepribadian orang dibentuk dan dikembangkan oleh faktor endogen dan eksogen, atau oleh faktor dasar dan ajar; dan (4) Pendidikan Islam. Menurut ajaran Islam, anak dilahirkan sesuai dengan fitrahnya, tetapi pengertian fitrah di sini tidak sama dengan pengertian tabularasa menurut John Locke tersebut. Pengertian fitrah di sini adalah asli, bersih, dan suci bukan kosong, tetapi berisi daya perbuatan dan perkembangannya tergantung pada usaha manusia sendiri.1 Berangkat dari sejumlah aliran (mazhab) pendidikan tersebut, maka salah satu bentuk pendidikan Islam tradisional di Indonesia yang memiliki ciri tertentu adalah pendidikan pesantren. Meski terjadi pembaruan dan modernisasi pendidikan di lembaga pesantren itu, sisa-sisa tradisionalismenya masih kelihatan, misalnya belajar ditekankan dengan menghafal bebarapa nadham, prinsip sekolahnya otoritarian, tradisi dan pola hubungan antara murid (siswa) dan guru (kyai) sangat harmonis, dan kitab-kitab atau buku-buku teks yang merupakan bahan ajar yang paling umum tertera dalam kurikulum pesantren adalah kitab-kitab salaf. Hal ini dimaksudkan untuk mengisi daya perbuatan dan perkembangan anak secara Islami di kemudian hari. Berangkat dari pernyataan tersebut di atas, Abu al-Futuh2 menyatakan bahwa 1 Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS, 1994), hlm. 14-16 Menurut Imam al-Ghazali, fitrah di sini adalah agama Islam. 2 Abu al-Futuh, Al-Mudarris, hlm. 5. Dalam hal ini, Abdul Hamid Luthfi (1982) mengatakan, pendidikan yang paling utama dalam membentuk dan merubah pandangan hidup manusia lahir maupun batin adalah keluarga. Ada enam fungsi penting dalam keluarga, yaitu (1) sebagai wadah pertama untuk kelangsungan menumbuh kembangkan turunan anak manusia, (2) sebagai
fatcat:t7m2rgxrorbtxejznexy7md2qa