Penanganan Stres Terkait Pekerjaan

Fransisca Mulyono, Jurusan Ilmu, Administrasi Bisnis, Ilmu Sosial, Ilmu Politik
2010 unpublished
Work-related stress has become common phenomenon. Many considers it as an isolated problem, whereas this stress causes the performance of the company decreases. Managing this stress is still not done enough yet, even in the big companies in developed countries, due to the low awareness among the managers regarding the problem. Individual worker suffers the stress, so she/he should handle her/his problem, indeed. But the role of the leaders is crucial to handle the problem, such as creating a
more » ... ducive and open environment. The last but not the least, the just and good treatment of the leaders towards her/his subordinate reflects the good leadership. Keywords: work-related stress, the causes of stress, coping strategy 1. Pendahuluan Berkat kemunculan Revolusi Industri di Inggris pada pertengahan abad 18 yang mengubah proses produksi menjadi massal dan memunculkan division of labour guna meningkatkan efisiensi dalam proses produksi, manusia menjadi harus terbiasa bekerja dan menjadi spesialis dalam hidupnya guna memperoleh penghasilan bagi diri dan keluarganya. Selain itu pekerjaan memiliki fungsi lain, yaitu (1) secara sosial pekerjaan memberikan identifikasi kelompok dan sense of belonging, (2) mem-berikan kesenangan (enjoyment), kepuasan dan perasaan akan pencapaian, prestasi dan keberhasilan dalam hidup (Burke, et. al., 2010 : 347). Dengan fungsi ini tidak heran jika secara universal dikenal dua kelompok pekerjaan yang mengidentifikasi pelakunya menjadi dua kelompok, yaitu blue-collar workers yang notabene para pekerja yang kurang memiliki skill tinggi dan white-collar workers yang notabene para pekerja yang gaji dan posisinya lebih tinggi dari yang blue-collar workers. Selain itu banyak orang yang mendapatkan kebahagiaan dengan pekerjaannya, juga kesuksesan. Berkaitan dengan pekerjaan, lebih dari tiga dekade lalu banyak perhatian dicu-rahkan kepada konsep workaholism-yang pertama kali dicetuskan Oates tahun 1971 untuk menggambarkan seseorang yang meningkatkan kebutuhannya untuk bekerja guna merintangi multi fungsi hidupnya (Aziz & Cunningham, 2008 : 553). Pernya-taan ini memperlihatkan kalau seorang workaholism pada dasarnya adalah orang yang tidak bahagia, artinya ia tidak ingin menyeimbangkan berbagai fungsi dalam
fatcat:3mkkwnx5fnhfbhoxii3a35zqsi