MEMBANGUN SISTEM EKONOMI UMAT BERBASIS SYARIAH

H Hanifullah
2012 Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman  
Abstrak Sebagai bentuk dakwah, ziarah kubur mempunyai fungsi didaktis. Beberapa nilai didaktis yang terkandung dalam ziarah kubur adalah penteladanan kepada tokoh karismatik, transformasi mengingat kematian sebagai semangat berbuat baik, pembangunan modal sosial, media bersyukur, dan ketertiban serta kepatuhan. Sementara itu, salah satu tantangan yang dihadapi dalam dunia pendidikan Indonesia adalah maraknya kekerasan yang dilakukan siswa dan orang tua kepada guru. Masalah ini tidak bisa hanya
more » ... i tidak bisa hanya diselesaikan melalui penerapan konsep pendidikan humanistik. Oleh sebab itu, penulis menawarkan konsep pendidikan humanistik religius. Konsep ini berisikan penggunaan beberapa nilai didaktis ziarah kubur untuk melengkapi kelemahan konsep pendidikan humanistik. Penggunaan nilai didaktis tersebut dilatarbelakangi alasan bahwa ziarah kubur merupakan praktik keberagamaan yang mudah diakses masyarakat dari segala kelas sosial, kecuali bagi mereka yang menolaknya. Beberapa nilai pendamping konsep pendidikan humanistik adalah sakralisasi fungsi guru, transformasi mengingat kematian untuk melakukan amal jariyah dan komitmen atas ketertiban serta kepatuhan. Sakralisasi guru diperlukan untuk menyadarkan orang tua dan murid bahwa kekerasan kepada guru bisa menimbulkan kualat bagi pelaku kekerasan. Konsep amal jariyah perlu dipertahankan dalam pendidikan untuk mendorong kesadaran orang tua dan murid agar tidak hanya perlu menghormati guru selama proses belajar, tetapi juga berlanjut setelah murid pendidikan. Komitmen untuk mematuhi ketertiban diperlukan agar murid dan orang tua tidak melancarkan kekerasan kepada guru ketika guru melaksanakan tugasnya mendisiplinkan murid. [As a form of da'wah, the grave pilgrimage has didactic function. Some didactic values contained in the pilgrimage of the grave are the exemplary to the charismatic figures, the transformation of remembering death as a spirit of good deed, the building of social capital, the medium of gratitude, and of order and obedience. One of the challenges faced in Indonesian education is the rampant violence done by students and parents to teachers. This problem can not be solved only through the application of the concept of humanistic education. Therefore, the author offers the concept of humanistic religious education. This concept contains the use of some didactic values of the grave pilgrimage to complement the weaknesses of the concept of humanistic education. The use of didactic value is motivated by the reason that the grave pilgrimage is a religious practice that is easily accessible to the public from all social classes, except for those who reject it. Some of the companion values of the concept of humanistic education are the sacralization of the function of the teacher, the transformation of remembering death for charity and commitment to order and obedience. The sacralisation of teachers is necessary to awaken parents and students that violence to teachers can lead to kualat for perpetrators of violence. The concept of charity should be maintained in education to encourage the awareness of parents and students to not only need to respect the teacher during the learning process, but also continue after the student completes his education. Commitment to obeying order is necessary so that the parents and the student do not resort to violence to the teacher when the teacher carries out his disciplinary duties.] Kata kunci: Ziarah Kubur, Didaktis, Pendidikan humanistik, Humanistik religius Pendahuluan Ziarah kubur memiliki banyak dimensi. Ia tidak bisa dipandang hanya sebagai ritual mendoakan orang yang sudah meninggal. Di
doi:10.21274/epis.2012.7.2.267-292 fatcat:mlaluzwwp5dr5gqz3lqbmvnv4i