Candi Borobudur, Pawon, Mendut dan Ngawen

Agus Aris Munandar
2009 Jurnal Konservasi Cagar Budaya  
Telah banyak para ahli yang memperbincangkan perihal Candi Borobudur, Pawon dan Mendut, dan terdapat pula hipotesa yang ^engemukakan bahwa ketiga candi tersebut terdapat hubungan antara satu dengan yang lain. Di masa silam ^^tiga bangunan yang bernafaskan Buddha Mahayana itu sangat candi t e jr s e b u t adalah Sailendra\vangsa dan kaum kerabatnya. jvlereka rela bekerja keras dibant^ rakyatnya membangun monumen keagamaan megah derr^ untuk kepentingan peribadatan dan tanda pengabdian yang
more » ... m kepada Sang Buddha. Maka menjelmalah satu bangunan yaog unik tiada duanya di dunia ini, yaitu suatu bentuk J^ungkin dihubungkan dengan jalan perpaduan antara teras-teras ^pacara, berawal dari Candi Mendut bertingkat dati bermacam bentuk dan berakhir di Borobudur. Hipotesa menarik juga P^tnah dikemukakan oleh Van l^ieuwenkamp bahwa ketiga candi itu dahulu dibangun di tepian danau Putba. Dinyatakannya juga bahwa Candi Borobudur didirikan di 'ajung tanjung yang menjorok ke ^^^gah danau, jadi seperti bunga ^^tatai mekar yang mengambang di ^^"^gah danau menunggu kedatangan sang Maitreya, manusia Buddha yang akan datang. Setelah ^akukan penelitian mendalam oleh para ahli geologi, dapat diketahui Bahwa danau purba di sekitar Borobudur itu dahulu memang ada, tetapi jauh di masa silam sebelum ^danya manusia yang menghuni ^lau Jawa. Dengan demikian pada ^aktu Borobudur dibangun ^stupa dalarn berbagai ukuran. Di puncak teras-teras tersebut terdapat mahkota stupa besar yang pejal tanpa rongga, stupa besar simbol dari keagungan agama Buddha dan juga lambang pertemuan antara dunia manusia dan dunia dewadewa.
doi:10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v3i1.58 fatcat:zjkr5ncghvde3f2ytqqqq2qv4i