KONFLIK DALAM BINGKAI SOSIAL KEAGAMAAN

Kusno Didik, Aji
unpublished
This article tries to explain associated with various conflicts resulting from a false understanding of the text in response to a context. Text sometimes translated in a way that is narrow and indiscriminate, resulting in a narrow understanding of people and tend to be wrong.Apart from a narrow understanding conveyed by religious leaders, the real conflict in society is due to the knowledge of understanding of individuals who tend to be limited. In the global society, the paradigm of a narrow
more » ... adigm of a narrow understanding that should be fought, because in turn, peacefulness will never arise when religious believers insists assume that the religion which he believes most true and other religions shall be fought and led to other religions. Then there must be understanding in the community comprehensive of religious attitudes in order to create a more harmonious atmosphere. Pendahuluan Konflik atas nama agama akhir-akhir menjadi isu yang seakan tiada pernah habis untuk dibahas. Kekeras, penistaan, kekejaman yang tersulut atas nama agama sering kali hadir kepermukaan. Terlebih, Indonesia yang memiliki keragaman agama dan suku, tentu apiakan konflik sangat mudah tersulut. Secara normatif doktrinal, Islam merupakan agama yang mengajarkan kedamaian dan menghargai sebuah perbedaan.Namun praktik kerusuhan yang sering terjadi dan dilakukan oleh umat Islam, menandakan, bahwa agama belum bisa berjalan dengan baik sesuai dengan doktrin dan ajaran agama.Agama yang tergambar kepermukaan sering kali terlihattidak toleran, suka membabi buta dan tercitra negatif. Dalam perkembangan dunia saat ini, doktrin ajaran agama semakin hari terasa semakin hilang dan tak bermakna. Orang cenderung lebih banyak melupakan ajaran agama yang ia yakini. Kenyataan ini tentu akan semakin menghawatirkan, sebab secara tidak sadar akan menggiring para pemuluknya untuk menjauhkan dari ajaran agama. Ada banyak contoh disekitar kita, betapa doktrin ajaran agama semakin menghilang, seperti : berkurangnya nilai-nilai kebaikan, merasa paling benar, tidak toleran dan lain sebagainya. Hal inilah yang bisa menjadi pemantik sebuah agama semakin tidak punya peran dalam tataran kehidupan sosial.Saat ini, betapa banyak contoh bahwa agama hanyalah sebuah simbol semata dan tidak terimplementasi dalam kehidupan nyata.Padahal semestinya, agama menjadi filter utama seseorang dalam mengambil langkah dan sikap. Klaim kebenaran mutlak dalam sebuah keyakinan justru akan semakin memperburuk keadaan dalam kaitanya dengan hubungan sosial kemasyarakatan. Menurut Charles Kinbal 1 , klaim kebenaran agama itu didasarkan atas ajaran otoritatif dari pemimpin karismatik, juga didasarkan atas interpretasi atas teks suci, namun ketika interpretasi diperlakukan sebagai doktrin kaku, maka kecenderungan penyelewengan dalam agama akan muncul 1 Kinbal adalah Direktur Religion Studies di University of Oklahoma USA.
fatcat:eiypdg46g5dn5gpn7dbox5tpwm