Problems of Democratic Transition and Consolidation: Southern Europe, South America, and Post-Communist Europe

Francis Fukuyama, Juan J. Linz, Alfred Stepan
1997 Foreign Affairs  
Abstrak Isu keterwakilan perempuan dalam politik ramai diperbincangkan karena masih rendahnya jumlah perempuan yang menduduki jabatan politik baik di internal partai, lembaga legislatif maupun eksekutif. Padahal, undang-undang partai politik dan pemilu sudah memberikan peluang bagi perempuan untuk bisa masuk dalam ranah politik formal, khususnya lembaga legislatif. Di sinilah peran partai politik menjadi penting dalam menjalankan fungsi rekruitmen politik dan tentu saja seleksi calon anggota
more » ... si calon anggota legislatif termasuk perempuan. Artikel ini membahas persoalan yang dihadapi oleh kandidat perempuan pada Pemilu pasca-Orde Baru yang berdampak terhadap rendahnya angka keterwakilan perempuan di legislatif. Dengan menggunakan metode kualitatif berdasarkan studi literatur dan wawancara, diketahui bahwa rendahnya angka keterwakilan perempuan di lembaga legislatif disebabkan oleh 1) motivasi kandidat perempuan untuk menjadi caleg, 2) budaya patriarki yang masih melekat di masyarakat Indonesia, 3) keterbatasan modal finansial perempuan, dan 4) pragmatisme partai politik. Kondisi inilah yang menjadi tantangan bagi kandidat perempuan untuk mengisi jabatan-jabatan politik di Indonesia pasca-Orde Baru. Kata Kunci: persoalan keterwakilan perempuan, partai politik, rekrutmen politik, patriarki Abstract The issue of women's representation in politics is important because numbers of women who occupy political positions in the party, legislative and executive bodies are still low. In fact, the laws of political parties and elections have provided opportunities for women to be involved in the formal political sphere, especially in the legislature. This is why the role of political parties becomes important in carrying out the function of political recruitment and of course the selection of legislative candidates including women. This article discusses the issues faced by women candidates in the post-New Order Elections that have an impact on the low number of women's representation in the legislation. By using qualitative method, based on literature study and interview, the study reveals that the low number of women representation in legislative institution is caused by 1) motivation of women to become legislative candidate, 2) patriarchal culture of Indonesian society, 3) limited financial capital, and 4 ) the pragmatism of political parties. This condition is a challenge for women candidates to take political positions in the post-New Order. Pendahuluan Pemilu merupakan salah satu instrumen demokrasi yang penting dalam menghadirkan pejabat-pejabat publik yang diharapkan mampu membawa kesejahteraan bagi warga negara-nya. Setiap pemilu di rezim pemerintahan yang berganti memiliki cerita demokrasi tersendiri bagi Indonesia, termasuk dinamika partai politik yang ada. Adapun instrumen penting dan konstitusional dalam memperebutkan kekua-
doi:10.2307/20047958 fatcat:yz2724fjtrblban66gbunfxf2e