BENTUK-BENTUK TAKRĀR DALAM AL-QUR'AN MENURUT TINJAUAN BALAGAH (STUDI PADA JUZ AMMA)

Amir Amir, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, M. Rusydi Khalid, Sabaruddin Garancang, Amrah Kasim
2017 Jurnal Diskursus Islam  
Abstrak: Tulisan ini mengetengahkan mengenai ayat-ayat takrār d dalam Juz 'Amma suatu tinjauan Bala> gah, dalam konteks bentuk-bentuk takra> r. Penelitian ini dapat dikatagorikan ke dalam penelitian kepustakaan (libraryresearch). Sumber data primer mencakup buku-buku bala> gah, linguistik, mu'jam-mu'jam leksikal bahasa Arab yang diangap standar, kitab-kitab tafsir, dan bahan-bahan tertulis lainnya yang representatif yang ada relevansinya dengan penelitian. Pendekatan yang digunakan adalah
more » ... unakan adalah pendekatan interdisipliner dalam penelitian ini, mengingat bahwa ilmu balagah memiliki keterkaitan erat dengan sejumlah sub disiplin ilmu kebahasaan, meliputi ilmu nahwu, s} arf, semantik, linguistik, tafsir, dan sebagainya. Sedangkan pendekatan bala> gah dijadikan sebagai pedoman untuk melihat pola perubahan komunikasi dalam sebuah alur pembicaraan dan efek makna yang ditimbulkan. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan tehnik-tehnik survey kepustakaan, studi literatur, membaca ayat-ayat al-Qur'an secara berulangulang, mencatat ayat-ayat al-Qur'an yang dianggap takār dan letaknya dalam surah dan nomor ayat, dan mengumpulkan ayat-ayat al-Qur'an yang ada pada Juz 'Amma (Juz 30) yang mengalami perulangan (takrar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat dalam al-Qur'an yang mengalami perulangan (takra> r) ternyata mengandung banyak bentuk takra> r, Faedah takra> r, makna takra> r, dan ide terpenting di dalamnya yang harus dipahami oleh manusia. Takra> r pada dasarnya menunjukkan sebuah kata atau kelompok kata yang mendapat perulangan itu dianggap penting, karena merupakan fikiran inti yang harus lebih ditonjolkan dari unsur-unsur teks yang lain. Bentuk-bentuk takrar yang banyak didapati dalam al-Qur'an adalah pada kisah-kisah. I. PENDAHULUAN Banyak ditemukan dalam al-Qur'an bentuk kata dan kalimat yang berulang. Bentuk kata dan kalimat yang berulang tersebut merupakan gaya bahasa yang unik yang dimiliki al-Qur'an. Gaya bahasa seperti itu disebut dengan uslub takra> r. Uslu> b itubukan disebabkan minim bahasa yang digunakan atau menunjukkan kekurangan dan kelemahan al-Qur'an tetapi hal tersebut menunjukkan kelebihann dan keistimewaan bahasa yang digunakan . Adapun uslu> b takra> r itu bertujuan agar pendengar peduli dan memperhatikan (menganggap baru) setiap berita dari berbagai berita yang disampaikan. Contohnya firman Allah swt. dalam QS. al-Naml/27: 40 seperti berikut: Bentuk-Bentuk Takrār Dalam Al-Qur'an Menurut Tinjauan Bala> gah (Studi Pada Juz Amma) 99 Jurnal Diskursus Islam Volume 05 Nomor 3, Desember 2017 Dan Sesungguhnya telah kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? 1 Kalau dilihat dari segi kandungan makna, maka kata '‫'ٍـذمش‬merupakan perulangan dari kata ‫."ىيزمش'‬ 2 Akhir-akhir ini, sebagian kelompok melontarkan tuduhan terhadap Islam dan al-Qur'an. 3 Dalam perspektif sejarah, perang terhadap al-Qur'an bukanlah hal yang baru .Kenyataan seperti ini sudah ada sejak keberadaan al-Qur'an sebagai kitab suci. Sorotan-sorotan terhadap awal turunnya al-Qur'an, antara lain dipengaruhi oleh posisiny yang dengan tegas melawan segala bentuk paganisme (al-watsaniyyah) yang sudah mengakar dan menjadi tradisi turun-temurun sebelum Islam datang. Serangan terhadap al-Qur'an pada zaman modern lebih parah dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya, sebab berbagai serangan-serangan tersebut menggunakan berbagai media modern, seperti dengan adanya internet dan mediamedia komunikasi lainnya. Bahkan Amerika Serikat menertbitkan sebuah al-Qur'an rekayasa yang diberi nama ‫اىفشقب‬ ُ ‫اىحق‬ (the True Furqa> n ). Buku tersebut menampilkan perubahan total terhadap al-Qur'an yang menyerupai pola al-Qur'an dan Terjemahnya. Al-Furqa> n tersebut menurut tim eksekutif penerjemah dan publikasi dalam pengantarnya, bahwa karya mereka tersebut sebagai kitab yang sangat ideal dan sesuai dengan hikmah dari kehadirannya, karena menghilangkan sekat-sekat suku, ras, dan warna kulit. Bahkan mereka mengklaim bahwa 'al-Furqān'tersebut mengakomodir apa yang dikenal dengan kesatuan agama. Kitab tersebut dalam klaim mereka merupakan kitab petunjuk bagi semua manusia di dunia, tanpa dibatasi oleh perbedaan-perbedaan suku, ras dan agama. 4 Diantara bentuk serangan tersebut adalah tuduhan tentang kekacauan bahasa al-Qur'an, adanya kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lain, dan adanya pengulangan redaksi ayat ‫)اىزنشاس(‬ yang relatif berbeda dan bertolak belakang satu sama lain. 5 Tuduhan-tuduhan seperti ini antara lain, disamping sebagai upaya mencari celah menyerang Islam, juga karena ketidakpahaman terhadap perbedaan-perbedaan makna kata-kata yang digunakan al-Qur'an, tidak melakukan kajian tentang konteks penggunaan setiap kata yang tampak berbeda tersebut, serta tidak menguasai ilmuilmu yang memadai untuk mengkaji bahasa al-Qur'an. Sehubungan dengan hal tersebut al-Iskāfi dalam mukaddimah tafsir Durrat al-Tanzīl mengemukakan latar belakang yang menjadi motivasi dalam menyusun tafsir 1 Departemen Agama RI,al-Qur'an danTerjemahnya, (Bandung: Penerbit J.Art, 2004), h.882 2 Ahmad Baidhawi,Min Balāgat al-Qur'an, Juz II ( al-Qāhirah : Dār al-Nahdhah, 1960 ), h.436. 3 'Abd al-Rahma> n Badwi> , Difā'an al-Qur'a> n Didda Muntaqid} ih (t.tp.: al-Dār al-'Ālamiyyah li al-Kutub wa al-Nasyr, t.th), h. 133. 4 al-Safi dan al-Mahdi ( tim eksekutif ), al-Furqān al-Haqq; The True Furqān ( Cet. I ; Enumclow: Wine Press Publishing , 1999), h. 4 . Dalam buku tersebut, semua ayat yang menegaskan monoteis dirubah redaksinya sesuai dengan ajaran teologi kristiani. Kata ‫هللا‬ ‫بسم‬misalnya, dirubah menjadi ' ‫األب‬ ‫بسم‬ .Lihat dalam Disertasi Damhuri Uslub al-Qur'an Perspektif Balagah (Analisis Terhadap al-Iltifāt al-Mu'jami), tahun 2016, h. 257. 5 'Abd al-Rahma> n Badwi> , Difa'an al-Qur'a> n Didda Muntaqidih (t.tp.: al-Dār al-'Alamiyah li al-Kutub wa al-Nasyr, t.th. ), h. 133. Amir, M. Rusydi Khalid, Sabaruddin Garancang, Amrah Kasim Jurnal Diskursus Islam Volume 05 Nomor 3, Desember 2017 100 tersebut. Dalam hal ini ia berkata bahwa penulisan tafsir ini dilatarbelakangi oleh kesadaran tentang banyaknya ayat-ayat al-Qur'an yang mengalami perulangan (takrār). Masing-masing ayat yang mengulangi perulangan (takrār) tersebut menggunakan redaksi yang memiliki kemiripan satu sama lain, tetapi menggunakan kata-kata lain yang berdekatan makna. Ia menegaskan bahwa tujuan penulisan tafsir tersebut untuk mengungkap kerumitan-kerumitan penafsiran kata-kata al-Qur'an, dan mengembalikan setiap kata yang berbeda-beda tersebut pada makna yang sebenarnya. Dengan cara seperti ini, maka tuduhan-tuduhan orang kafir dapat dijawab dan menutup pintu lahirnya persepsi-persepsi yang keliru terhadap al-Qur'an. 6 Pernyataan al-Iskāfi tersebut di atas, menegaskan bahwa kemiripan redaksi dengan perbedaan kata-kata tertentu dalam bahasa al-Qur'an, bukanlah suatu yang bersifat kebetulan atau kekacauan. Setiap redaksi ayat dengan pilihan kata tertentu merupakan isyarat adanya perbedaan konteks yang membutuhkan penelaahan yang cermat. Dalam mencermati fenomena kebahasaan al-Qur'an seperti itu, Majidah Salah Hasan mengatakan bahwa al-Qur'an memiliki gaya tersendiri dalam merangkai katakata yang digunakannya. Jika susunan tersebut diubah, maka akan ikut mempengaruhi makna dan pesan yang disampaikan. 7 Takrār rmerupakan salah satu seni dari beberapa seni ilmu Bala> gah yang berkembang dibawah naungan ilmu al-Qur'an, dan telah disebutkan oleh para penentangal-Qur'an dalam menolak mempelajari uslu> b ini, dan menjelaskan rahasianya, dan menunjukkan pandanganya di dalam perkataan bahasa Arab. 8 Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah adalah ulama yang memunculkan ilmu takrār, menyebutkan macam-macam takrār dan menjelaskan rahasia-rahasianya, lalu menyebutkan takrār kisah-kisah para Nabi, dan menjelaskan bahwa Allah swt. menurunkan al-Qur'an apa yang memudahkan kepada hambaNya, sebagai kelengkapan agamanya, sebagai nasihat dan peringatan apa yang mereka lupa. 9 Sesungguhnya Allah swt. tidak membebani hambaNya untuk menghafal al-Qur'an secara keseluruhan, tetapi untuk mengamalkan hikmahnya, dan mempercayai ayat-ayat mutasya> bihnya, menjalankan petunjuknya, menjauhi larangannya, melaksanakan shalat sebagai tanda ketaatannya.
doi:10.24252/jdi.v5i3.7060 fatcat:z4xktpunybh4pfb3llmb6a3etm