Media Construction of Gender: Framing Analysis of Rape Cases in the Mass Media

Ali Imron
2013 Journal of Government & Politics   unpublished
Construction of the printed media which tends to dramatize and blow up the reporting of rape cases has in fact discredited the rape victim, resulting in gender bias. This is due to the fact that media present the news content concerning on the victim and the perpetrator in imbalanced reporting, in that the victims are scrutinized from diverse facets. This paper analyze the coverage of printed media in rape cases by means of framing analysis. The result shows that printed media coverage
more » ... a coverage generally goes beyond the rape case itself as the victim's identity and images of the incident are also revealed. The using of visual image (victim's image) is probably aimed to present an overview on the fact or the truth from the media viewpoint. This presentation, however, obscures the differences between factual and fictional reality and this might lead to different interpretation on the readers' side. Furthermore, inappropriate reporting might become the society's reference concerning on the modus operandi, in that the society learn or imitate the aspects they once did not know of. Visual image will create a second rape by the media toward the victim, in addition to the stereotyping developed in public, which often brings out psychological impact to the victim and the family. This is called the third rape. ABSTRAK Konstruksi media cetak yang cenderung mendramatisir dan melakukan blow up terhadap kasus-kasus pemerkosaan ternyata memojokkan korban sehingga menimbulkan bias gender. Hal ini disebabkan media menampilkan isi berita yang tidak seimbang antara korban dan pelaku, yakni dengan menampilkan lebih banyak sisi lain korban. Tulisan ini menganalisis pemberitaan media cetak dalam kasus pemerkosaan dengan menggunakan analisis framing. Hasil analisis menunjukkan bahwa media cetak ternyata tidak hanya mengungkap kasus pemerkosaan saja namun seringkali memunculkan identitas korban dan foto-foto kejadian. Penggunaan visual image (foto korban) dapat dimaknai untuk memberikan gambaran kepada pembaca mengenai fakta atau kebenaran menurut media. Hal ini menimbulkan batas-batas antara realitas yang bersifat factual dan kenyataan yang bersifat watak fiksional menjadi kabur sehingga akan menimbulkan interprestasi yang berbeda dari pembaca. Disamping itu menjadikan pembelajaran bagi masyarakat tentang modus operandi dengan melakukan imitasi sehingga mereka yang tidak tahu menjadi tahu. Visual image justru akan menimbulkan the second rape (pemerkosaan kedua) oleh media terhadap korban belum lagi karena stereotipe yang berkembang di masyarakat, sehingga menimbulkan dampak psikologis bagi korban dan keluarga. Hal inilah yang disebut the third rape (pemerkosaan ketiga).
fatcat:vhngmdnxr5aejd477xny4sxcou