PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN SIKAP KONSUMEN RUMAH TANGGA DALAM MEMBELI BERAS SIGER TOGA SARI DAN MEKAR SARI (Decision Making and Attitudes of Household Consumers on buying Siger Rice Toga Sari and Mekar Sari)

Annisa Parastry, Dyah Aring, Hepiana Lestari, Erry Fembriarty, Jurusan Prasmatiwi, Fakultas Agribisnis, Universitas Pertanian, Jl Lampung, Prof, Soemantri Brojonegoro
JIIA   unpublished
This research aims to analyze the stages of decision-making and consumer's attitude on buying siger rice Toga Sari and Mekar Sari. This research was conducted by a survey These villages were selected on purpose. Research data was collected in August until November 2015. The number of respondents in this research as many as 89 were chosen by accidental sampling method. The data was analyzed by descriptive qualitative and multiatribute Fishbein. The results showed that the decision-making on
more » ... sion-making on buying siger rice by the household consumers was began by the state of introduction in which consumer needs of siger motivated to consume rice for some reasons, i.e benefits achieved. Most consumers know rice siger information through the family and evaluate the benefits of the product to be an attribute that the primary consideration in buying. The majority of consumers buy siger yellow rice with the distance to the place of purchase one to five kilometers , and evaluate post-purchase consumers were satisfied in buying rice siger and still buy rice siger despite the price increase on the grounds provide health benefits. The results of the multiatribute Fishbein analysis, household consumer's attitude in buying siger rice Toga Sari really like, while the siger rice Mekar Sari shows the attitude is like. PENDAHULUAN Ketergantungan penduduk Indonesia terhadap beras sangat tinggi, hal ini ditandai dengan rata-rata konsumsi beras pada periode tahun 2010-2014 sebesar 98,57 kg/kapita/tahun (Kementrian Pertanian RI 2015). Menurut Riyadi (2003) upaya yang dilakukan untuk mengurangi konsumsi beras adalah dengan melakukan program diversifikasi pangan. Diversifikasi pangan merupakan suatu proses pemilihan pangan yang tidak tergantung pada satu jenis pangan saja, tetapi lebih terhadap berbagai bahan makanan mulai dari aspek produksi, pengolahan, distribusi hingga konsumsi pangan pada tingkat rumah tangga. Diversifikasi pangan harus berbasis pada sumber daya lokal dikarenakan setiap daerah memiliki potensi sumber daya alam yang berbeda. Ubi kayu merupakan komoditas andalan di Provinsi Lampung. Pada tahun 2011, Provinsi Lampung memiliki surplus ubi kayu sebesar 8.871 ton (Badan Ketahan Pangan Provinsi Lampung 2011). Hal tersebut diakibatkan oleh bergesernya pola konsumsi masyarakat yang beragam ke pola konsumsi tunggal yaitu beras. Oleh karena hal tersebut, dilakukan upaya peningkatan konsumsi ubi kayu dengan meningkatkan peran ubi kayu melalui berbagai jenis olahannya. Ubi kayu dapat dijadikan sebagai alternatif pendamping beras karena kandungan gizi yang cukup baik bagi tubuh. Menurut Direktorat Gizi Depkes RI (1998) ubi kayu memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi, sehingga dapat dijadikan bahan dasar untuk diversifikasi pangan. Masyarakat Lampung mampu melakukan inovasi dengan mengubah ubi kayu menjadi bahan alternatif pendamping beras yang lebih dikenal dengan nama beras siger. Beras siger adalah makanan tradisional yang berasal dari ubi kayu yang diolah sehingga berbentuk butiran-butiran seperti beras. Ukuran butiran beras siger dibuat menyerupai ukuran beras pada umumnya. Hal ini dimaksudkan agar psikologi masyarakat saat mengkonsumsi beras siger sama dengan saat mengkonsumsi nasi (Halim 2012). Beras siger memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan, diantaranya ialah untuk mengurangi risiko dan bahkan mencegah munculnya penyakit diabetes dan obesitas karena
fatcat:tcaxbj6jgndnhnohgxxzdy4mwa