IDENTIFIKASI DAN ANALISIS KARAKTERISTIK LONGSOR DI KABUPATEN GARUT

Subhan Bakri, Kukuh Murtilaksono, Baba Barus
2019 Jurnal Teknik Sipil  
Based on the data of earthquake disaster events in Indonesia for the last 12 years then West Java Province was most often experienced landslide disaster. Land movement map of Garut Regency issued by Directorate of Volcanology and Geological Hazard Mitigation (DVMG), indicated Garut included in the category of vulnerability zone of high ground movement, among others: District Banjarwangi, Singajaya and Peundeuy. This study aimed to identify and analyzed the characteristics of landslides in Garut
more » ... landslides in Garut regency, especially in three districts. The first phase of this study conducted a literature study on various factors causing landslides, followed by making a list of fields as a guide in the field. The identification of landslides was done descriptively. Various factors suspected to be the cause of the landslide were identified and analyzed. Based on the results of observation for 14 months at 32 landslide point that occurred in the research area, there were 2 landslide characteristics encountered, namely 1. Soil scrolling (30 cases or 94%) and 2. Decreased/subsidence (2 cases or 6%). The highest landslide was found on paddy fields as much as 25 dots, followed by mixed gardens (talun) as much as four points, in the settlement / infrastructure found two points and one season plantation garden. Abstrak: Berdasarkan data peristiwa bencana alam gempa bumi untuk 12 tahun terakhir, Jawa Barat merupakan daerah yang paling sering terjadi bencana tanah longsor. Peta Pergerakan Tanah yang dikeluarkan oleh Direkorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) mengindikasikan bahwa Garut dikategorikan sebagai zona rawan dari pergerakan dataran tinggi, diantaranya: Kecamatan Banjarwangi, Singajaya dan Peundeuy. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kaakteristik dari tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Garut, khususnya di tiga kecamatan tersebut. Langkah awal dalam penelitian ini adalah melaksanakan studi literasi pada faktor-faktor yang menyebabkan tanah longsor, dilanjutkan dengan pembuatan daftar area sebagai panduan di lokasi. Identfikasi dari tanah longsor dibuat secara deskriptif. Berbagai faktor yang dianggap sebagai penyebab tanah longsor diidentifikasi dan dianalisis. Berdasarkan pada hasil pengamatan selama 14 bulan pada 32 titik longsor yang terjadi di daerah penelitian, terdapat 2 karakteristik longsor, yaitu 1. Gelinciran tanah (30 kasus atau 94%) dan 2. Penurunan muka tanah/ambles (6 kasus atau 6%). Longsor dengan jumlah tertinggi terjadi di sawah sebanyak 25 titik, selanjutnya kebun campuran sebanyak empat titik, pada area residensi/infrastruktur ditemukan sebanyak dua titik dan satu titik pada tanaman semusim.
doi:10.24815/jts.v8i2.14117 fatcat:fekrwfer5jb7vjx34zojqjakhq