Harmoni dan solidaritas perempuan di jejaring sosial Facebook (kajian pragmatik)

Rosita Ambarwati
2017 Linguista Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya  
<p>Perkembangan teknologi berdampak luas pada banyak hal, salah satunya adalah perkembangan komunikasi melalui jejaring sosial. Hal yang menarik pada fenomena facebook adalah sebagian besar penggunanya adalah perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan wujud harmoni komunikasi perempuan di facebook. (2) Menggambarkan wujud solidaritas perempuan saat beromunikasi di facebook, (3) Menggali lebih dalam sejauh mana karakteristik bahasa perempuan dalam komunikasi fatis. Penelitian
more » ... fatis. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan pendekatan pragmatik. Subyek penelitian adalah wanita dewasa umur 25-50 tahun. Data adalah tuturan perempuan di jejaring sosial facebook. Pemilihan data dilakukan dengan pertimbangan tertentu menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak dan catat terhadap sejumlah tuturan yang mengandung bentuk ungkapan fatis. Uji keabsahan data dilakukan melalui uji kredibilitas yaitu dengan perpanjangan pengamatan dan member check. Analisis data dilakukan berdasarkan model analisis Spradley yang terbagi menjadi 4 tahap, yaitu analisis domain, analisis taksonomi, analisis kontekstual dan analisis tema budaya. Hasil yang dicapai adalah: (1) Wujud harmoni perempuan saat berkomunikasi difacebook ditujukan untuk menjaga hubungan tetap langgeng dan baik. Penanda fatis sebagai perwujudan harmoni yang muncul adalah: 1) Hehehe (ekspresi tertawa), 2) Take care, momy.....(ungkapan basa-basi yang lebih bermakna sebagai salam, 3) thanks (ucapan terima kasih) (2) Wujud solidaritas tercermin dari ungkapan, Aamiin, dan ungkapan memberikan dukungan moril. Karakteristik bahasa perempuan yang tampak adalah, menggunakan ungkapan santun, menggunakan kalimat tidak langsung, menggunakan kata sifat, menggunakan tag question. komunikasi fatis di facebook menjadi dominan karena bentuk komunikasi tidak bertatap muka secara langsung sehingga ekspresi penutur tidak dapat terlihat dan komentar yang muncul tidak bisa dipastikan keajekan waktunya sehingga kejujuran tuturan kurang bisa diterima. Hal ini mempunyai kecenderungan sebagai bentuk basa-basi</p>
doi:10.25273/linguista.v1i1.1317 fatcat:2zwrirvicvgspjjihusdigqfba