Separatisme Etnis Bukan Sekedar Sebuah Wacana

Muhammad Idrus
2003 Unisia  
An important step to attain goodprocess for nationai integrity is to demolish some negative aspects ofcultural behavior. The autonomy must be put In the hand oflocal government, psychological gap among public servants, 'distance' between the leaders and ordinary people must be minimized. Beside deblrocratizatlon is a compulsory, legal certaintymust be enforced. Indeed, the equal chance to get the rights must be available for everyone. Koentjaraningrat (1993) dal am catatannya mengungkap bahwa
more » ... mengungkap bahwa dari 175 negara yang tercatat di PBB, hanya 12 negara saja yang memiliki penduduk "agak" homogen. Indonesia termasuk di antara negara-negara yang tidak homogen, dengan kurang lebih 358 suku bangsa dan 200 sub-suku bangsa. Harus diakui pada satu sisi, pluraiisme suku bangsa di Indonesia merupakan potensi pembangunan dan keberkembangan yang luar biasa, dan selain itu juga dapat dimaknai sebagai pencerminan kekayaan budaya masyarakat bangsa Ini. Namun, di lain sisi pluralisme ini bukan tidak mungkin menjadi potensi destruktif bagi hadirnya model negara kesatuan seperti sekarang ini. Bervariasinya etnis dan budaya yang melebur dalam satu wadah negara kesatuan merupakan kelnginan membangun bangsa berdasar keanekaragaman (kebhinekaan). Tentu saja pada kondisi tersebut dibutuhkan prasyarat yang mungkin UNISMNO. 47/XXVI/I/2003 saja merugikan kelompok tertentu, sisi lainnya menguntungkan kelompok lain. Budaya daerah akan menimbulkan perilaku dan sikap mental yang khas kedaerahan, yang terkadang hai tersebut berbeda dengan yang ada di daerah lain. Hal inilah yang dislnyaiir oleh Alflan (1986) sebagai satu hal yang kurang menguntungkan bagi pembangunan, sikap mental masyarakat Indonesia yang majemuk. Etnis dapat menjadi sebuah kekuatan yang memicu perlawanan. Pada masa penjajahan dapat disaksikan betapa ikatan kedaerahan dan suku mampu menjadi salah satu cara efektif untuk menggalang kekuatan melawan kekuasaan pemerintahan Kolonial. Dari sejarah ini dapat dislmpulkan betapa etnis/suku/ras mampu menjadi pengikat untuk aksl menyempal balk dengan perlawanan bersenjataseperti kebanyakan yang diiakukan para pejuang daerah-, ataupun gerakan tanpa senjata seperti yang diiakukan Surosentiko Samin, dengan gerakan Saminnya. 83
doi:10.20885/unisia.vol26.iss47.art9 fatcat:yoyu7exa3jhzlm2uftfdsiqeyy