SELAMETAN KEMATIAN DI DESA JAWENG KABUPATEN BOYOLALI

Dinia Agustia Artika Sari
2018 Haluan Sastra Budaya  
<p align="center"> </p><p align="center"><strong>ABSTRAK</strong></p><p>Tradisi merupakan suatu bentuk kegiatan yang dilakukan terus menerus oleh masyarakat, sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pada akhirnya menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat (Agus Riyanto, 2014:1). Tradisi membentuk suatu nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari serta menjadi suatu kekayaan budaya bagi suatu daerah
more » ... a bagi suatu daerah yang harus dilestarikan dan dipertahankan keberadaannya. Sampai saat ini, masih banyak desa-desa di Jawa yang melakukan tradisi seperti itu. Desa tersebut adalah Desa Jaweng, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. Salah satu tradisi yang masih dilakukan adalah tradisi selametan kematian yang terdapat nilai-nilai Islam di dalam pelaksanaanya seperti adanya ceramah agama Islam atau tausiyah, membaca do'a-do'a, ayat-ayat Al-Qur'an, sholawat, dan berdzikir yang dikenal dengan tahlilan. Tradisi selametan setelah kematian tersebut sampai sekarang masih banyak dilakukan masyarakat di Desa Jaweng karena didorong oleh suatu sistem keyakinan dan kepercayaan yang kuat terhadap sistem nilai dan adat istiadat yang sudah berjalan turun temurun. Tulisan ini bertujuan agar masyarakat mengetahui bahwa keberadaan tradisi selametan kematian di Desa Jaweng tersimpan nilai positif dalam pelaksanaannya. Masyarakat di Desa Jaweng memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam menilai tradisi tersebut. Seperti halnya ada masyarakat yang memiliki keinginan atau termotivasi untuk menghadiri dan mengikuti kegiatan tersebut dan ada juga yang menilai bahwa kegiatan semacam itu tidak perlu dilakukan karena tidak ada hadist yang mendasarinya. Tradisi semacam ini perlu diambil nilai positif yang terkandung oleh masyarakat itu sendiri. Seperti halnya tradisi tersebut untuk silaturrahmi atau sekedar menyambung ikatan saudara dengan masyarakat satu dengan yang lain yang menimbulkan rasa satu kepentingan dan kebersamaan sehingga muncul hubungan sosial yang erat.</p><p><strong>Kata Kunci: </strong><strong>I</strong><strong>slam, </strong><strong>J</strong><strong>awa, selametan, tradis</strong><strong>i</strong></p><p><strong> </strong></p><p> </p>
doi:10.20961/hsb.v1i2.15188 fatcat:6iomim4wazhj5euqyggt34nbsm