Kebijakan Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok pada Masa Pemerintahan Xi Jinping

Syaiful Anam, Ristiyani Ristiyani
2018 Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional  
Belt and Road Initiative (BRI) is one of the ambitious economic policies issued during the reign of China Xi Jinping. BRI includes two aspects: the Silk Road Economic Belt and the 21st Century Maritime Silk Road. BRI is a gigantic project as it covers 2/3 of the global population and 3/4 of energy sources. This article tries to answer questions about why China issuing BRI policy by using the perspective of neorealism as a theory of international relations that includes the concept of national
more » ... ncept of national interest, the balance of power and hegemonic stability. The findings in this paper is divided into three premises, namely (1) the interest of China to secure supply lines of energy to the Middle East and Central Asia through cooperation with the countries in South Asia, (2) the ambition of China to take over the leadership role in Asia through the seizure of the fast train project financing with Japan, (3) China sought to challenge US both in Security and Economic fields. This paper is then expected to be used as a comparative material for similar studies and become contributions to the parties concerned. ABSTRAK Belt and Road Initiative (BRI) merupakan salah satu kebijakan ambisius yang dikeluarkan Tiongkok pada masa pemerintahan Xi Jinping. BRI mencakup dua aspek yaitu the Silk Road Economic Belt dan the 21st Century Maritime Silk Road. BRI merupakan proyek raksasa yang dikeluarkan Tiongkok pada masa pemerintahan Xi Jinping karena mencakup 2/3 populasi global dan 3/4 sumber energi. Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan tentang mengapa Tiongkok mengeluarkan kebijakan BRI dengan menggunakan perspektif neorealisme yang terdiri dari konsep kepentingan nasional, balance of power, dan hegemonic stability. Hasil temuan dalam tulisan ini terbagi ke dalam 3 alasan, yaitu (1) kepentingan Tiongkok untuk mengamankan jalur pasokan energi ke Timur Tengah dan Asia Tengah lewat kerjasama dengan negara-negara di Asia Selatan, (2) ambisi Tiongkok mengambil alih peran kepemimpinan di kawasan Asia lewat perebutan pembiayaan proyek kereta cepat dengan Jepang, (3) Tiongkok berusaha menantang hegemoni AS baik itu di bidang keamanan maupun ekonomi. Tulisan ini selanjutnya diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan komparatif bagi penelitian sejenis dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
doi:10.26593/jihi.v14i2.2842.217-236 fatcat:4qied54nffaaznxor5ubddp5ci