Ekonomi Global dan Krisis Demokrasi
Indonesia

Budi Winarno
2012 Jurnal Hubungan Internasional  
Since the fall of the Soviet Union led to the end of the Cold War, democracy and capitalism have become an unchallenged ideology. In the era of globalization, global economy and free market have not directly brought about democracy, and therefore it denies the argument of globalists. As a matter of fact, globalization has increasingly marginalized the roles of state, and even it has replaced them by the non-territorial actors or the super-states, namely international institutions, multinational
more » ... ions, multinational corporations, and private organizations. Their roles of these territorial actors not only have become so strong and dominant in economy and politics, and therefore they have the power to control the world market, but also have threatened democracy. As a result, the roles of the states are coopted to serve the interest of corporations, and are detrimental for the interest of the citizens. Therefore, conventional democracy has to be redefined because it has not been adequate any more. Abstrak Sejak jatuhnya Uni Soviet menyebabkan berakhirnya Perang Dingin, demokrasi dan kapitalisme menjadi sebuah ideologi tak tertandingi. Dalam era globalisasi, ekonomi global dan pasar bebas tidak serta merta mendorong demokrasi sebagaimana argumen kaum globalis. Faktanya, globalisasi telah menyingkirkan peran negara dan diambil alih oleh aktor pasca-negara, terutama yaitu lembaga internasional, perusahaan multinasional dan organisasi swasta. Peran mereka sebagai aktor teritorial tidak hanya kuat dan dominan dalam arena ekonomi dan politik, dan karena itu mereka memiliki kekuatan mengontrol pasar dunia, namun juga mengancam demokrasi. Akibatnya, peran negara terkooptasi untuk melayani kepentingan perusahaan, dan merugikan bagi kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, demokrasi konvensional harus didefinisikan ulang karena sudah tidak memadai. Kata Kunci: ekonomi global, demokrasi, pasar bebas PENDAHULUAN Para pendukung globalisasi yang note bene adalah kaum neoliberal dalam berbagai macam bentuknya, mempunyai keyakinan bahwa ekonomi global dan pasar bebas akan mendorong demokrasi dalam skala yang luas. Oleh karenanya, pembicaraan politik tentang pasar bebas dan perdagangan bebas adalah sebuah pesan gigih yang menegaskan bahwa kemajuan pasar bebas adalah kemajuan demokrasi. Lebih lanjut, para penganjur pasar bebas akan mendorong kita untuk percaya bahwa pasar bebas merupakan mekanisme yang lebih efisien dan responsif untuk menyuarakan kehendak politik dibandingkan dengan pemungutan suara sekalipun karena bisnis lebih efisien dan lebih tanggap terhadap kebutuhan rakyat dibandingkan dengan politisi dan birokrat yang tidak memiliki kepedulian (Korten, 1997:108.) Keyakinan ini semakin kuat ketika Uni Soviet runtuh pada dekade awal 1990-an. Akibatnya, keyakinan akan pasar bebas dan demokrasi telah menjadi doktrin umum (Chomsky, 1997). Oleh karenanya, para pendukung pasar bebas, baik mereka yang berangkat dari kalangan akademisi, politisi, maupun jurnalis akan dengan sangat lantang menyuarakan masa depan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih demokratis melalui globalisasi dan pasar
doi:10.18196/hi.2012.0001.1-15 fatcat:4fmm7qddb5c23jdup6nexd54ju