FORMULASI GAYA BAHASA INGKARI DALAM ALQURAN

Mamat Zaenuddin, Wagino Hamid Hamdani
2015 Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra  
AbstrakArtikel penelitian ini merupakan ringkasan hasil penelitian kelompok yang bertujuan mendeskripsikan formulasi gaya bahasa ingkari dilihat dari uslub nahwi-bahalaghi. Sumber datanya diambil melalui dokumentasi mushaf Alquran yang diterbitkan oleh Departemen Kementrian Agama RI tahun 1990 bekerja sama dengan Departemen Agama Islam, Urusan Wakaf dan Dakwah Kerajaan Arab Saudi. Objek penelitiannya terfokus pada seperangkat formulasi gaya bahasa ingkari yang dituturkan oleh orang-orang kafir
more » ... orang-orang kafir musyrik. Adapun datanya dihimpun melalui dokumentasi dan format pencatatan. Kemudian data tersebut dianalisis secara kualitatif nahwiyah-balaghiyah dan kuantitatif yang mencakup frekuensi, presentase, rerata, dan rentang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari uslub nahwi, gaya bahasa ingkari menggunakan uslub nahwi yang terdiri atas syarat, qasam, dan tahdid, sedangkan dari uslub balaghi, uslub ingkari menggunakan qashar, amr, nahy, dan istifham. Uslub ingkari itu muncul karena faktor kepribadian yang mencakup sikap, keyakinan syirik, pendakwan diri sebagai putra dan kesasih Allah, bersumpuh tidak syirik, anggapan bahwa Uzair dan Isa adalah putra Allah; anggapan bahwa Alquran adalah dongengan orang-orang terdahulu; anggapan bahqa da'i adalah lemah akal, tukang sihir, pendusta, gila, pencegah peribadatan mereka, larangan mendengar Alquran; anggapan bahwa orang mukmin adlah sesat dan mengada-ada; dan anggapan bahwa sanggup menanggung dosa orang-orang mukmin. Kata-kata kunci: Uslub ingkari, uslub nahwi-balaghiAbstractThis research article is a summary of the results of the group research that aims to describe the formulation of the denied style seen from uslub nahwi-bahalaghi. Sources of data were taken through the Qur'an Manuscripts documentation published by the Department of the Ministry of Religious Affairs in 1990 in collaboration with the Department of Islamic, Endowments and Propagation Affairs Kingdom of Saudi Arabia. The object of research is focused on the formulation of a set of spoken language style denied by the infidels and idolaters. The data were collected through documentation and recording format. Then the data is analyzed qualitatively through jawanib nahwiyah-balaghiyah and quantitatively through frequency, percentage, mean, and range. The results showed that of uslub nahwi, denied style is using uslub nahwi consisting of terms: qasam, and tahdid, while from uslub balaghi, denied uslub is using qashar, amr, nahy, and istifham. Denied sslub arised because of personality factors including attitudes, syirk beliefs, accuseing themselves as God's sons and beloved, swearing not shirk, assumption of that Ezra and Jesus were the son of God; assumption of that the Qur'an is the tales of the past; asssumption of that preacher is weak reasonable, sorcerer, liar, lunatic, preventor of their worship, prohibition of hearing the Qur'an; assuming that the believer is someone misguided and ridiculous; and assumptions of that they could bear the sins of the believers.Keywords: Denied Uslub, uslub nahwi-balaghi
doi:10.17509/bs_jpbsp.v15i1.799 fatcat:mmfbtau3y5emzmer4z3s6jo2ja