Wayang Golek Sunda Sebagai Warisan Budaya

Arief Dwinanto
2019 Patanjala Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya  
Membaca buku ini, mengingatkan pada pengalaman ketika menonton wayang golek Sunda di tempat saya tinggal, di perdesaan Bandung Selatan, Jawa Barat. Jauh hari sebelum pertunjukan, tersiar kabar pagelarannya. Pada hari pagelaran, ramai orang-orang berkumpul menonton pertunjukan. Usai pagelaran, beberapa hari hingga minggu ke depannya, tergantung kepopuleran dalang tentunya, orang-orang masih membicarakan pertunjukan tersebut. Mulai dari kisah wayang yang dipentaskan, dalang, penonton dan
more » ... nonton dan penanggapnya. Melalui buku ini saya mendapatkan informasi dan pemahaman baru terkait seni wayang golek Sunda. Tidak hanya melihatnya sebagai bentuk seni pertunjukan rakyat semata, tapi lebih kompleks dari itu. Buku ini merupakan karya etnografi dari Sarah Anaïs Andrieu yang disusunnya untuk memperoleh gelar Doktor Ilmu Antropologi Sosial dan Etnologi di Ecole des Hautes Erudes en Sciences Sociales Paris pada tahun 2010. Desertasinya berjudul Performances et Patrimonialisations du Wayang Golek Sundanais (Java Quest, Indonesie) yang diterbitkan menjadi buku dengan judul "Corps de bois, souffle human: Le theatre de marionnettes wayang golek de Java Ouest" pada Tahun 2014 di Prancis. Pada tahun 2017 karyanya itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Raga Kayu, Jiwa Manusia: Wayang Golek Sunda". Narasinya menghadirkan rekam jejak dinamika kultural dan struktural dari seni pertunjukan wayang golek Sunda dalam konteks lokal, nasional dan global. Mempertautkan perkembangan wayang golek Sunda dengan kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya. Analisis etnografisnya menggunakan pendekatan multidisiplin dengan piranti konseptual dalam domain performance (pagelaran), antropologi politik dan patrimonialisation (warisan).
doi:10.30959/patanjala.v11i1.518 fatcat:qjnki72ftnhfzgxom6oyhq4kbq