Sikap Masyarakat Terhadap Tayangan Kekerasan di Televisi Swasta

Hartiningsih Hartiningsih
2014 Jurnal penelitian pers dan komunikasi pembangunan  
Study of public response to the violence on private televisions show has been done in Banjarmasin. The goal of study was to know public response by cognitive view and affective. By quantitative and descriptive analyzes, the result of study indicated that knowledge society to violence is too significant. Long duration and intensity to watch daily program television such news, entertainment, etc, not only create knowledge society to diversity and violence cases, but also emotional between agree
more » ... nal between agree and disagree to violence on television. Television show in news, not pared in detail, vulgar, and insistently, get positif response by public. Because television had power of penetration, easy to be understood, so the management of television program should be wise and not establishing violence as the main program (submissive to the law). Keywords: Response , Violence Show, Television, Private TV Company ABSTRAK Penelitian sikap masyarakat terhadap tayangan kekerasan di televisi swasta dilakukan di Kota Banjarmasin. Tujuannya untuk mengetahui sikap masyarakat dilihat dari sudut kognisi maupun afeksi terhadap tayangan kekerasan di televisi. Melalui metode survey dengan analisis deskriptif hasil penelitian mengindikasikan bahwasanya pengetahuan masyarakat terhadap tayangan kekerasan di televisi sangat signifkan. Durasi menonton yang cukup lama degan intensitas menonton yang juga sangat sering (setiap hari) melalui berbagai program, seperti berita, film, sinetron, sebagainya, bukan saja membentuk pengetahuan (mampu mengingat dan menjelaskan) terhadap aneka ragam dan bentuk kasus kekerasan, tetapi juga membentuk sikap emosional antara setuju dan tidak setuju pada tayangan kekerasan. Tayangan dalam bentuk pemberitaan yang obyektif, apa adanya, tidak rinci, vulgar, dan tidak ditayang ulang berkali-kali mendapat respon positif dari masyarakat. Sebaliknya, tayangan yang berulang–ulang, terkesan sensasional, dimuat dalam kemasan lain dengan waktu tayangan lama (berminggu), dibenci/tidak disetujui masyarakat. Karena televisi memiliki daya penetrasi mudah dimengerti dan dipahami, maka sudah seharusnya pengelola tevisi berlaku bijak, tidak menjadikan kasus kekerasan sebagai bagian tayangan utama untuk mendongkrak rating, (patuh pada undang-undang yang berlaku) Kata Kunci: Sikap, Tayangan Kekerasan, Televisi, Perusahaan TV Swasta
doi:10.46426/jp2kp.v17i3.4 fatcat:32ibhy6pmrhatgxs2kg2zftxvm