Politisasi Ulama Pada Pilpres 2019 Perspektif Kyai Silo Di Kabupaten Pasuruan

Miftahul Huda, M. Dayat
2019 Kabilah : Journal of social community  
Abstrak: Kehebohan pemilihan Presiden 2019 telah ramai, terutama di media sosial yang telah dimulai sejak awal 2018. Berdasarkan survei Lembaga Penelitian dan Pengembangan KOMPAS pada pertengahan 2018, dinyatakan bahwa konflik politik antara pendukung calon Presiden dan calon Wakil Presiden lebih parah dan terjadi di media sosial dengan persentase 71,8% dibandingkan dengan konflik dalam hubungan langsung dengan persentase <10%. Di Pasuruan, Jawa Timur, misalnya, apa pun yang dikatakan oleh
more » ... dikatakan oleh ulama tidak diragukan lagi akan dipengaruhi oleh santri dan jama'ah, dan bahkan tanpa harus memperhitungkan baik atau buruknya hal itu. Secara konseptual, penelitian ini berorientasi pada makna Kiai mursyid thariqat terhadap fenomena politisasi ulama dalam pemilihan Presiden 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi kualitatif. Pada kenyataannya setelah pemilihan presiden masih ada polarisasi antara pendukung dan bahkan permusuhan. Seorang Kiai adalah tokoh karismatik yang dihormati dan merupakan panutan bagi masyarakat. Dalam kontestasi pemilu seorang Kiai tidak boleh mempraktikkan politik, tetapi politik nasional yang berupaya membantu TNI, POLRI dan penyelenggara pemilu untuk menyelaraskan suasana dan kampanye menuju pemilihan damai, jujur, dan adil. Kata kunci: politik, pilpres, ulama Abstract: The excitement of the 2019 presidential election has been bustling, especially on social media which began in early 2018. Based on a KOMPAS Research and Development Institute survey in mid-2018, it was stated that political conflicts between Presidential and Vice President candidates' supporters were worse and occurred on social media with a percentage of 71, 8% compared to conflicts in direct relationship with a percentage <10%. In Pasuruan, East Java, for example, whatever is said by the ulema will undoubtedly be influenced by santri and jama'ah, and even without having to calculate the good or bad. Conceptually, this research is oriented to the meaning of the murshid ulama scholars about the phenomenon of ulama politicization in the 2019 presidential election. The method used in this research is qualitative phenomenology. In reality after the presidential election there is still a polarization between supporters and even hostility. An ulama is a respected charismatic figure and is a role model for the community. In the election contestation, a Kiai must not practice politics, but national politics that seeks to help the TNI, POLRI and election organizers to harmonize the atmosphere and campaign towards peaceful, honest and fair elections. Keywords: political, the presidential election, ulama
doi:10.35127/kbl.v4i1.3602 fatcat:b7e6zeydt5fifl65etwba35ftm