Peninggalan-peninggalan Purbakala Di Padang Lawas

S. Suleiman
2020 AMERTA  
Di dataran yang panas kering, yang kini hanya ditumbuhi alang-alang dan beberapa pohon di sana sini, di sekitar Sungai Panei dan Barumon, yang mengiris tanah Padang Lawas, nampaklah di hadapan pandangan runtuhan-runtuhan berbagai biaro yang menjulang tinggi. Daerah yang sunyi senyap itu, yang pada waktu ini tidak banyak di datangi orang, dahulu menjadi pusat agam a da lam Kerajaan Panei. Biaro-biaro itu, yang dahulu dicipta sebagai syair pujian dari batu dengan puncaknya menjulang ke langit,
more » ... ulang ke langit, kini masih ber ceritera tentang kemegahan kerajaan itu, ten tang agama yang berkembang beberapa abad lama nya, dan tentang seni bangunan dan seni pahat nya, semua itu bukti-bukti yang nyata dari ke budayaan yang bermutu tinggi. Kerajaan Panei itu dua kali disebut dalam se jarah. Untuk pertama kalinya, seorang raja dari India Selatan yaitu Rajendracola I menyebut Panei (Pannai) dalam prasastinya tahun 1025 dan 1030, yang ditulis dalam bahasa Tamil. Prasasti itu dikeluarkannya ketika ia habis ber perang dalam tahun 1023 dan 1024 dengan Ke rajaan Sriwijaya-Kadaram, yang menurut para sarjana letaknya di kedua belah pihak Selat Malaka. Setelah Rajendracola I itu menaklukkan Sriwijaya, maka Pannailah yang jatuh ke dalam tangan Baginda. Kerajaan itu disebutnya "Pannai yang diairi oleh sungai-sungai". Untuk kedua kalinya Panei dise but dalam buku "Nagarakartagama", sebuah syair p' ujian yang dikarang oleh Prapanca, seorang pujangga yang menjabat pegawai tinggi untuk soal-soal 3 PENINGGALAN -PENINGGALAN PURBAKALA
doi:10.24832/amt.v2i0.419 fatcat:5fq2aom4obf6tcjqqqegjayah4