DISKURSUS PENAFSIRAN AYAT AL-HURÛF AL-MUQATHTHA'AH: Studi Analisis Tekstual dan Kontekstual

Abdul Muiz Amir, Fahmi Gunawan
2019 Miqot: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman  
Abstrak: Al-Hurûf al-muqaththa'ah di dalam al-Qur'an dipandang oleh sebagian umat Islam tekstualis hanya sebagai simbol yang sakral tanpa makna, sehingga tidak menunjukkan sisi kemanfatannya sebagai pedoman. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap makna ayat al-hurûf al-muqaththa'ah dalam Q.S. al-Baqarah/2: 1., dengan menggunakan metode kajian literatur yang meliputi tafsir, sastra bahasa Arab dan sejarah. Analisis data menggunakan pendekatan gramatikal bahasa Arab secara tekstual dan historis
more » ... tual dan historis secara kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-hurûf al-muqaththa'ah menjadi potret bagi sumber dan proses turunnya al-Qur'an secara autentik yang menunjukkan kelemahan sastra Arab saat berhadapan dengan wahyu. Keistimewaan al-hurûf al-muqaththa'ah terletak pada nilai sastra dan kedalaman makna yang seyogianya dapat berperan aktif sebagai perekat ayat-ayat al-Qur'an lainnya secara holistik. Abstract: The Interpretation Discourse of Verses of al-Hurûf al-Muqaththa'ah: Textual and Contextual Analysis. This article aims to reveal the meaning of the verse al-hurûf al-muqaththa'ah in the Q.S. al-Baqarah/ 2: 1 by employing a historical and literature review method with textual and historical context grammatical approaches data analysis. The results of the study show that it portray the source and process of authentic Qur'an revelation. The mysterious eloquence of al-hurûf al-muqaththa'ah lies in the literary value and the depth of meaning even though it consists only of a series of letters. The effort of the commentator to uncover the meaning of the verses of al-hurûf al-muqaththa'ah should be able to play an active role as the uniting factor for other Qur'anic verses holistically. Therefore, a set of methods or approaches is required that is adequate to uncover the meaning that is in accordance with the thematic contexts of the verse. Pendahuluan Al-Hurûf al-muqaththa'ah atau potongan huruf-huruf di dalam al-Qur'an tidak dapat menjadi pedoman hidup atau petunjuk bagi seluruh umat manusia jika hanya dianggap sebagai simbol sakral tanpa makna. Hal ini karena secara ideal, al-Qur'an itu diturunkan Allah sebagai petunjuk untuk dapat dipahami, diyakini dan selanjutnya diamalkan termasuk di dalamnya al-hurûf al-muqaththa'ah. Itulah sebabnya di dalam Q.S. al-Nisâ'/4: 82 dinyatakan bahwa "afalâ yatadabbarûna al-Qur'ân..." (mengapa kalian tidak mengkaji ayat-ayat al-Qur'an). Ayat ini menegaskan bahwa Allah memerintahkan umat manusia untuk mengkaji dan berusaha mengungkap seluruh makna al-Qur'an agar dapat menjadi pedoman hidup bagi umat manusia. Penegasan ini sejalan dengan pendapat 'Âbid al-Jabirî yang mengungkapkan bahwa sebagian mufasir kontekstualis memandang ayat-ayat al-hurûf almuqaththa'ah dapat dipahami dengan baik asalkan memiliki kriteria ilmu yang mendalam yang dalam bahasa al-Qur'an disebut al-râsikhûn fî al-'ilm. 1 Sejauh ini penelitian tentang penafsiran al-hurûf al-muqaththa'ah hanya dilakukan dengan menggunakan pendekatan fonetik, tematik, dan matematik sebagaimana yang dilakukan oleh Hasan, 2 metode tafsir bi al-ra'yî, dalam pandangan Thanthâwi Jauharî oleh Ilham, 3 dan pandangan ulama Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ'ah (Sunni) oleh Martin Nguyen. 4 Dari kecenderungan penelitian tersebut tampak bahwa penafsiran yang menggunakan pendekatan tekstual, yaitu kaidah gramatikal bahasa Arab dan norma-norma kaidah penafsiran al-Qur'an, dan pendekatan kontekstual, yaitu analisis sejarah mikro dan makro, masih cenderung diabaikan. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya untuk melengkapi beberapa penelitian terdahulu tentang al-hurûf al-muqaththa'ah dengan menggunakan pendekatan tekstual dan kontekstual sebagai sebuah perspektif baru untuk mengungkap makna secara sistematis, terstruktur, dan terukur. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna al-hurûf almuqaththa'ah dengan menggunakan pendekatan tekstual dan kontekstual sehingga dapat menjadi pedoman hidup dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Ada dua hal yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu (1) bagaimana diskursus penafsiran ayat-ayat al-hurûf
doi:10.30821/miqot.v43i1.615 fatcat:jszhla4kibe73ieqmr47nxdbze