Perilaku Keimanan, Kesabaran dan Syukur dalam Memprediksi Subjective Wellbeing Remaja

Triantoro Safaria
2018 HUMANITAS  
Subjective wellbeing is an important aspect of an individual. Previous studies have shown that subjective wellbeing had positive effect to achieve optimal quality of life. This study aims to examine the predictors of subjective wellbeing. The results of current study provided understanding on the relationship between faith, patience and gratitude to subjective wellbeing on students. This study used a quantitative approach through a survey method which involved 98 students from a private
more » ... m a private university in Yogyakarta as participants. Regression analysis was used to examine the relationship among the variables. The results show there was a significant relationship between gratitude and patience with subjective wellbeing. Meanwhile faith did not have a significant relationship with subjective wellbeing. Implication of these results for the study of faith, gratitude, patience and subjective wellbeing are explored. Abstrak Subjective wellbeing merupakan variabel yang penting bagi individu. Penelitian terdahulu menunjukkan pentingnya subjective wellbeing bagi tercapainya kualitas hidup yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti prediktor-prediktor dari subjective wellbeing. Hasil penelitian akan memberikan pemahaman tentang hubungan perilaku keimanan, kesabaran dan syukur terhadap subjective wellbeing pada mahasiswa. Penelitian ini mengunakan pendekatan kuantitatif melalui penyebaran skala. Subjek penelitian berjumlah 98 yang direkrut dari sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) di Yogyakarta. Analisis regresi digunakan untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara syukur dan sabar dengan subjective wellbeing pada mahasiswa. Sedangkan keimanan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan subjective wellbeing. Implikasi dari hasil penelitian ini didiskuiskan lebih lanjut. Kata kunci: perilaku keimanan, kesabaran, subjective wellbeing, syukur ISSN 1693-7236  128 HUMANITAS Vol. 15, No. 2, Agustus 2018: 127 -136 Pendahuluan Subjective wellbeing merupakan aspek yang penting bagi individu yang menjadi tujuan akhir dari kehidupannya. Subjective wellbeing dicirikan dengan suasana emosi positif dan munculnya kepuasan hidup. Tov & Diener, (2013) menjelaskan lebih lanjut bahwa subjective wellbeing dicirikan dengan adanya frekuensi munculnya suasana emosi positif, sedikitnya kemunculan emosi negatif dan tercapainya kepuasan hidup (life satisfaction). Konsep subjective wellbeing mendasarkan diri pada konsepsi utilitarian yang menjabarkan sebagai penjumlahan dari kenikmatan dan kesakitan. Konsep ini menekankan pada subjective appreciation terhadap kehidupan dan bukan pada kualitas objektif dari individu dan kondisi kehidupannya. Diener (2009) mendefinisikan subjective wellbeing sebagai tingkat sejauhmana individu mengevaluasi kualitas keseluruhan diri dan kehidupannya secara positif. Terdapat dua aspek penting dari subjective wellbeing. Pertama, adanya komponen hedonic level of affect, sejauhmana keseimbangan antara pengalaman afek yang menyenangkan berbanding dengan pengalaman afek yang tidak menyenangkan. Kedua adalah komponen contentment yaitu tingkat sejauhmana individu merasa semua kebutuhan/keinginannya tercapai. Kedua aspek ini sering disebut sebagai aspek afektif dan kognitif dari subjective wellbeing,
doi:10.26555/humanitas.v15i2.5417 fatcat:652belmpynaf3cu3a27zl5bdvu