THE SHIFTING PARADIGM OF ASWAJA AN-NAHDLIYYAH EPISTEMOLOGY IN POSTMODERN ERA

Kholid Thohiri
2019 Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman  
The Nahdlatul Ulama (NU) are important parts that greatly value the inheritance of the classical Islamic treasures contained in the work of the Imam Mazhab. Its wealth of sources of understanding, NU has its own unique way of responding to reform, while maintaining harmony in tradition and cultural heritage, moderate, tolerant, not extreme, as well as promoting goodness and preventing badness. This paper examines the positioning of NU and its relation to Ahlussunnah wa al-Jama'ah (Aswaja) based
more » ... a'ah (Aswaja) based on the social context that accompanies it and the actors involved in it. There are three locus, places, or cultural fields that have important significance because they are a source of discourse, ideas and practices of mazhab in contemporary NU communities: Pesantren, Islamic College (PTKI) and Non-Governmental Organization (NGO). This paper uses three approaches: Thomas Kuhn's Shifting Paradigm, Karl Manheim's Sociology of Knowledge and Abed al-Jabiri's Epistemology are used to study knowledge that is not only the result of theory, but also part of the process of sociology and epistemology. The results show that the majority of Pesantren when understanding and interpreting Aswaja An-Nahdliyyah are heavier and dominant based on Bayani and Irfani. Whereas the scholar of NU and NGOs that had been Bayani and Irfani shifted to Burhani's epistemological model. In other words, methodologically they want a change in understanding Aswaja from qauli to manhaji, Bayani-Irfani to Burhani, monolithic-dichotomic to integrative-progressive. [Nahdlatul Ulama (NU) dan komunitasnya adalah bagian penting yang sangat menghargai warisan khazanah keislaman klasik yang termaktub dalam karya para imam mazhab. Dengan kekayaan sumber pemahaman tersebut, NU mempunyai cara tersendiri yang unik dalam menyikapi pembaruan, dengan tetap memelihara keselarasan tradisi dan warisan budayanya, moderat, toleran, tidak ekstrem, serta menganjurkan kebaikan dan mencegah kejelekan. Artikel ini mengkaji kedudukan NU dan kaitannya dengan Ahlussunnah wa al-Jama'ah (Aswaja) berdasarkan konteks sosial yang menyertai dan para aktor yang terlibat di dalamnya. Ada tiga lokus, tempat, atau medan budaya yang memiliki arti penting, karena menjadi sumber wacana, gagasan, dan praktik bermazhab di kalangan NU kontemporer: Pesantren, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), dan Non-Governmental Organization (NGO). Artikel ini menggunakan tiga pendekatan sekaligus: Pergeseran Paradigma Thomas Kuhn, Sosiologi Pengetahuan Karl Manheim dan Epistemologi Abed al-Jabiri yang digunakan untuk mengkaji pengetahuan yang tidak hanya hasil teori, tetapi juga bagian dari proses sosiologi dan epistemologi. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas kelompok Pesantren ketika memahami dan menafsirkan Aswaja An-Nahdliyyah lebih berat dan dominan berbasis Bayani dan Irfani. Sedangkan pada kelompok NU terpelajar dan NGO yang tadinya Bayani dan Irfani bergeser kepada model epistemologi Burhani. Dengan kata lain, secara metodologis mereka menghendaki adanya perubahan dalam memahami Aswaja dari qauli ke manhaji, Bayani-Irfani ke Burhani, monolitik-dikotomik ke integratif-progresif.]
doi:10.21274/epis.2019.14.2.397-417 fatcat:irs6bqhpqvbgbf2yef6pumuqii