Ahmadiyah, conflicts, and violence in contemporary Indonesia

Nina Mariani
2013 Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies  
This article examines conflicts and violence experienced by Ahmadiyah commu-nity in Indonesia after reformasi era. In spite of diversities among Muslims in<br />Indonesia, Ahmadiyah (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) has been experiencing some<br />forms of violence both from other Muslims and government. The number of<br />violence has risen dramatically after the issuing second fatwa from Majelis Ulama<br />Indonesia in 2005 and the Joint Ministerial Decree (SKB) on Ahmadiyah. Those<br />forms of
more » ... ose<br />forms of violence are issuing decree on banning Ahmadiyah, sealing the mosques<br />and banning of doing religious activities, and mobbing the mosques and houses,<br />including killing. Furthermore, this paper argues that Indonesia's goverment does<br />not take its responsibility to protect its people particularly from minorities groups,<br />even some local governments also do violence towards Ahmadiyah community.<br />Artikel ini membahas konflik dan kekerasan yang dialami oleh komunitas<br />Ahmadiyah di Indonesia setelah masa reformasi. Walaupun Muslim di Indonesia<br />sangat beragam, Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengalami beberapa bentuk<br />kekerasn baik dari Muslim yang lain maupun dari pemerintah. Jumlah kekerasna<br />yang menimpa mereka meningkat tajam setelah dikeluarkannya fatwa sesat kedua<br />dari MUI pada tahun 2005 dan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri mengenai Ahmadiyah. Berbagai bentuk kekerasan yang menimpa mereka yaitu<br />pengeluaran peraturan pelarangan keberadaan Jemaat Ahmadiyah di berbagai<br />provinsi, penyegelan masjid dan pelarangan melakukan aktifitas keagamaan,<br />penyerangan masjid- masjid dan rumah-rumah warga Ahmadiyah, bahkan<br />pembunuhan. Selain itu, pemerintah pusat sepertinya tidak melaksanakan<br />kewajibannya untuk melindungi warganya, terutama dari kalangan minoritas<br />bahkan beberapa pemerintah lokal justru melakukan kekerasan terhadap warga<br />Ahmadiyah di daerahnya.<br />
doi:10.18326/ijims.v3i1.1-30 fatcat:bd7bor77v5cinpbd7jlqf2exhi