Proceeding of 2nd International Conference of Arts Language And Culture PENGEMBANGAN KEARIFAN LOKAL SENI BUDAYA MELALUI PENDIDIKAN BERBASIS BANJAR DI BALI

Wayan Sukarma
unpublished
Abstrak : Kearifan lokal seni budaya dan pendidikan berbasis banjar merupakan dua satuan konsep yang mengacu pada komunitas. Pengembangan kearifan lokal tentang seni berbasis budaya melalui pendidikan berbasis komunitas banjar di Bali. Pengembangan semacam ini dimungkinkan karena banjar memiliki peran ganda, yaitu pakraman dan pasraman dalam kerangka tri hita karana. Banjar sebagai pakraman mengatur aktivitas sosial budaya, sedangkan sebagai pasraman mengatur aktivitas pendidikan. Pendidikan
more » ... ikan. Pendidikan seni budaya sebagai upaya pengembangan kearifan lokal berlangsung dalam sekaa-sekaa kesenian berlandaskan prinsip ngayah. Prinsip yang menjadi intisari yadnya ini meletakkan aktivitas seni dan budaya sebagai pengabdian kepada alam, pelayanan kepada sesama, dan persembahan kepada Tuhan. Kata kunci: kearifan lokal, seni budaya, dan pendidikan berbasis banjar. PENDAHULUAN Pendidikan dan kearifan lokal, apalagi seni budaya merupakan topik-topik khas manusiawi karena makhluk, selain manusia tidak mempunyai cita-cita tentang kearifan dan menjadi bijaksana. Manusia memang makhluk berbudaya sehingga membutuhkan pendidikan. Seperti diungkapkan Matthew Arnold (Mulhern, 2010:xiii) bahwa "Budaya muncul dari dan langsung menuju apa yang sungguh-sungguh manusiawi di dalam kemanusiaan". Pendidikan memang aktus manusiawi (actus humanus), yaitu aktivitas yang lahir dari gagasan manusia, diselenggarakan oleh manusia, untuk kebutuhan manusia, dan melibatkan interaksi antarmanusia. Inilah letak penting dan relevansinya penyelenggaraan pendidikan untuk memuliaan harkat dan martabat manusia, berupa kemanusiaan. Memuliakan kemanusiaan mengisyaratkan betapa pentingnya pendidikan manusia seutuhnya, pendidikan yang mengintegrasikan berbagai dimensi kemanusiaan secara holistik dan integral. Konsep ini mengafirmasi gagasan tentang hakikat manusia yang multidimensional dan monopluralis. Manusia disebut makhluk multidimensional karena memiliki banyak dimensi dalam dirinya sendiri, seperti keindividualan, kesosialan, kesusilaan, dan keberagamaan (Tirtarahardja dan La Sulo, 1985:16), bahkan Gasset (Sastrapratedja (ed.), 1982:101) mengusulkan satu dimensi lagi, yaitu dimensi kesejarahan. Pada dimensi individualnya, manusia memiliki potensi menjadi dirinya sendiri yang berbeda dari individu lain. Pada dimensi kesosialannya, manusia memiliki potensi untuk hidup bersama orang lain yang meniscayakan mengembangkan nilai kemanusiaan. Manusia juga memiliki potensi kesusilaan atau moralitas, berupa pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk.
fatcat:4yug3b2v3re4bhbvs26uchcyrm